MENGHADAPI anak yang melakukan gerakan tutup mulut (GTM) memang bisa jadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Berbagai cara pun sudah dilakukan agar si kecil mau makan. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan ini justru membuat anak tidak mau makan.
Menurut spesialis anak, dr. Nunki Andria, orangtua sering kali salah cara memasukkan sendok ke mulut anak. Tidak hanya itu, kebiasaan seperti membersihkan sisa makanan di sekitar mulut juga bisa membuat anak tidak nyaman.
Padahal, kalau orang tua menggunakan teknik menyuapi yang tepat, si kecil bisa belajar makan dengan lebih nyaman. dr. Nunki menjelaskan, saat menyuapi anak, pastikan posisi sendok berada di depan agar si kecil bisa melihat makanan yang akan diberikan.
Jangan langsung memasukkan makanan dalam jumlah banyak tanpa menunggu respons anak. Setelah anak melihat makanan dan bersedia membuka mulut, masukkan sendok secara perlahan. Tunggu hingga anak menutup mulutnya, kemudian tarik sendok ke arah depan secara mendatar.
Jangan tarik sendok ke arah atas karena bisa membuat gusi anak sakit. Tak hanya itu, makanan juga bisa jatuh di belakang gusi atas dan bisa membuat makanan terdorong keluar dari mulut karena anak masih memiliki refleks menjulurkan lidah.
Kebiasaan lain yang perlu dihindari adalah terus-menerus membersihkan sisa makanan di sekitar mulut anak menggunakan sendok. Kebiasaan ini bisa membuat anak merasa terganggu dan tidak nyaman selama proses makan. Akibatnya, anak dapat mulai menunjukkan penolakan.
dr. Nunki menambahkan, kebiasaan mengencerkan makanan yang terlalu kental dengan air juga perlu diperhatikan. Selain membuat kepadatan kalorinya menurun, anak juga tidak bisa melatih kemampuan oromotor, yaitu koordinasi gerakan mulut yang digunakan untuk makan, mengunyah, dan menelan.
Maka dari itu, pastikan tekstur MPASI sesuai dengan usia dan kemampuan makan si kecil, bukan terus-menerus mengencerkannya agar lebih mudah disuapi. Sebab, proses makan bukan hanya tentang anak menghabiskan makanan, tetapi juga membantu mereka belajar makan dengan nyaman dan mandiri.
Namun, jika GTM berlangsung terus-menerus atau disertai masalah pertumbuhan, segera konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan agar penyebabnya bisa dievaluasi.
(Djanti Virantika)