JAKARTA - Siapa sangka bermain Minecraft ternyata tidak melulu soal membangun rumah, bertahan hidup, atau menjelajahi dunia virtual. Aktivitas eksplorasi dalam gim tersebut ternyata berpotensi memperkuat ingatan jangka panjang, khususnya pada anak dengan ADHD.
Hal itu disampaikan dokter Adam Prabata melalui akun X @AdamPrabata. Ia membagikan temuan dari sebuah penelitian yang melihat hubungan antara eksplorasi lingkungan virtual dan kemampuan mengingat pada anak.
Penelitian tersebut melibatkan 68 anak berusia 9-15 tahun, dengan 34 di antaranya merupakan anak dengan ADHD. Dalam penelitian itu, anak-anak terlebih dahulu diminta mempelajari sejumlah kata baru.
Setelahnya, mereka diminta menjelajahi sebuah lingkungan virtual menggunakan Minecraft. Hasilnya cukup menarik. Anak dengan ADHD yang melakukan eksplorasi di lingkungan Minecraft ternyata mampu mengingat 15,6 persen lebih banyak kata dibandingkan kondisi pembelajaran tanpa eksplorasi tersebut.
“Minecraft ternyata dapat membantu memperkuat ingatan jangka panjang, terutama pada orang dengan ADHD,” tulis dr. Adam Prabata dalam unggahannya, dikutip Kamis (8/10).
Menurut dr. Adam, efek tersebut diduga berkaitan dengan pelepasan neurotransmiter seperti dopamin dan noradrenalin ketika seseorang melakukan eksplorasi di lingkungan virtual. Keduanya berperan dalam proses yang berkaitan dengan plastisitas hipokampus.
Bagian otak ini memiliki peran penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori. Dengan kata lain, aktivitas eksplorasi dalam lingkungan Minecraft diduga memberikan rangsangan yang membantu proses konsolidasi memori pada anak ADHD.
Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Temuan ini tidak berarti bermain Minecraft otomatis bisa meningkatkan daya ingat semua anak.
Dokter Adam menekankan bahwa manfaat tersebut dalam penelitian justru terlihat secara spesifik pada anak dengan ADHD.
“Manfaat ini spesifik untuk anak ADHD. Pada anak yang tidak ADHD, eksplorasi berlebihan justru bisa menurunkan memori,” katanya.
Jadi, bukan sekadar soal berapa lama anak bermain Minecraft. Dalam konteks penelitian ini, yang menjadi perhatian adalah bagaimana aktivitas eksplorasi dalam lingkungan virtual berinteraksi dengan proses belajar dan memori, terutama pada anak dengan ADHD.
(Agustina Wulandari )