BAYANGKAN dibayar ratusan juta rupiah hanya untuk tidur. Hal yang terdengar seperti mimpi itu benar-benar terjadi di Jepang. Sebuah kompetisi tidur unik digelar di Tokyo dengan hadiah utama mencapai 2,22 juta yen atau sekitar Rp255 juta.
Kompetisi yang diberi nama Matt Race tersebut digelar pada 5 Oktober 2026. Para peserta tidak dituntut berlari, menjawab pertanyaan, atau menunjukkan kemampuan fisik. Mereka justru harus melakukan hal yang biasanya dilakukan setiap malam, yakni tidur.
Namun, tidur untuk mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada tantangan yang menanti para peserta.
Dilansir dari News On Japan, dalam kompetisi Matt Race, peserta diberikan waktu 90 menit untuk tidur. Setelah lampu diredupkan, para peserta mulai berlomba untuk mendapatkan kualitas tidur terbaik.
Tidur mereka dipantau menggunakan perangkat yang dikenakan di kepala untuk membaca gelombang otak. Penilaian kemudian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama, yakni kedalaman dan kualitas tidur, seberapa cepat peserta tertidur, serta kestabilan tidur selama kompetisi.
Ketiga pengukuran tersebut digabungkan menjadi sebuah skor tidur khusus. Peserta dengan total skor tertinggi dinyatakan sebagai pemenang.
Dengan kata lain, bukan sekadar siapa yang paling cepat memejamkan mata. Peserta juga harus mampu mencapai tidur yang cukup dalam dan mempertahankannya secara stabil.
Pemenang utama mendapatkan hadiah sebesar 2,22 juta yen. Jika dikonversikan ke rupiah, nilainya sekitar Rp255 juta.
Sementara itu, peserta yang berada di posisi kedua berhak mendapatkan hadiah 220.000 yen. Angka 2,22 juta yen bukan dipilih secara kebetulan. Angka tersebut terinspirasi dari tulisan “Zzz”, yang lazim digunakan untuk menggambarkan orang yang sedang tidur. Huruf “Z” juga secara visual dikaitkan dengan angka dua.
Meski hadiahnya menggiurkan, para peserta menghadapi tantangan yang cukup unik. Mereka harus mencoba tidur di tempat yang tidak familiar, sementara terdapat kamera dan berbagai aktivitas di sekitar lokasi.
Sebagian peserta dilaporkan bisa tertidur hampir seketika. Namun, sebagian lainnya justru kesulitan memejamkan mata karena suasana kompetisi.
Hal ini membuat lomba tersebut menjadi menarik. Pasalnya, semakin seseorang berusaha keras untuk tidur, belum tentu ia bisa langsung tertidur.
Kompetisi ini diikuti sekitar 75 peserta yang terbagi dalam tiga perlombaan. Pesertanya cukup beragam, mulai dari usia 20-an hingga 50-an, baik laki-laki maupun perempuan.
Motivasi mereka pun berbeda-beda. Ada yang mengincar hadiah uang tunai, sementara peserta lainnya tertarik karena keunikan kompetisi tersebut.
Yang lebih mengejutkan, minat masyarakat untuk mengikuti lomba ini sangat tinggi. Penyelenggara menyebut rasio pendaftar terhadap tempat yang tersedia lebih dari 800 banding satu. Artinya, untuk mendapatkan kesempatan ikut lomba saja, persaingannya sudah sangat ketat.
(Djanti Virantika)