JAKARTA - Anak kecil biasanya sering memasukkan benda atau mainannya ke dalam mulut. Tingkah laku mereka memang tak bisa diprediksi. Sekilas mungkin mereka hanya penasaran dengan benda tersebut. Namun, apakah hal itu normal?
Menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, ini bukan sekadar “kebiasaan aneh”. Pada usia tertentu, memasukkan benda ke mulut memang bagian dari proses anak mengenal dunia dan belajar tentang lingkungan sekitarnya.
“Bisa jadi perilaku tersebut adalah bagian dari cara anak mengenal dunia, terutama pada bayi dan toddler,” ujarnya lewat video di akun Instagram pribadinya, dikutip Rabu (7/10).
“Anak banyak belajar melalui melihat, memegang, meraba, mencium, bahkan memasukkan benda ke dalam mulut. Jadi ketika anak memasukkan benda ke mulut, seringkali bukan karena dia nakal. Dia sedang penasaran, ini apa ya?,” ucapnya.
Ia menambahkan, biasanya anak memang mudah penasaran, seperti apa rasanya dan bagaimana teksturnya. “WHO juga menekankan bahwa anak membutuhkan kesempatan untuk bereksplorasi dan belajar melalui interaksi dengan lingkungan. Tentunya dalam lingkungan yang aman,” katanya.
Dokter Aisya juga menegaskan, rasa penasaran pada anak bukan berarti semua benda boleh dicoba.
Ia juga mengingatkan, orang tua juga perlu waspada jika anak mulai memasukkan benda tajam ke mulutnya. Dokter Aisya menyarankan agar segera menjauhkan benda-benda tersebut dari jangkauan si buah hati.
“Kalau anak mau memasukkan gunting, benda tajam, baterai, benda kecil, obat atau benda yang bisa menyebabkan tersedak. Jangan hanya bilang ‘jangan’. Segera ambil bendanya, jauhkan dari jangkauan, lalu beri alternatif yang aman untuk dieksplorasi,” ucapnya.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi anak yang suka memasukkan benda ke mulut adalah hal yang normal, karena bisa jadi hal tersebut merupakan bagian dari eksplorasi. Namun, sebagai orang tua harus memastikan keamanan saat anak bermain di area sekitarnya.
“Jadi kalau anak memasukkan benda ke mulut, bisa jadi merupakan bagian dari eksplorasi. Tugas kita bukan mematikan rasa penasarannya, tetapi membuat lingkungan aman agar si kecil tetap belajar,” tutur dr. Aisya.
(Agustina Wulandari )