Dante mengatakan, angka estimasi TBC di Indonesia telah mengalami penurunan dalam satu tahun terakhir. Menurutnya, penurunan tersebut terjadi setelah kegiatan identifikasi dan pengobatan dilakukan secara masif di seluruh provinsi.
"Dan kelihatan setelah kita melakukan TPT dalam waktu 1 tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO dari tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000," tuturnya.
Menurut Dante, skrining menjadi salah satu hal penting dalam upaya pengentasan TBC. Pemerintah juga menekankan pentingnya investigasi kontak terintegrasi melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
"Kalau dulu teman-teman ingat zaman Covid, kita kan ada yang satu rumah itu harus di-swab. Ini juga sama di tuberkulosis. Yang satu rumah itu harus mendapatkan terapi pencegahan selama 3 bulan supaya tidak terkena kasus tuberkulosis," lanjutnya.
Selain skrining dan terapi pencegahan, Dante menyebut penggunaan obat TBC juga menjadi faktor penting. Pemerintah, kata dia, telah melakukan berbagai penelitian hingga menghasilkan obat yang dapat digunakan dalam waktu lebih singkat.
"Yang tadinya 6 sampai 9 bulan. 6 sampai 9 bulan kan bosen orang minum obat banyak begitu, banyak bisa sampai 9 tablet satu hari. Sekarang 1 bulan saja," katanya.
Pemerintah juga melakukan pemberdayaan desa dan kelurahan melalui program desa dan kelurahan siaga tuberkulosis atau Siaga TB. Melalui program tersebut, masyarakat terus diberikan pemahaman mengenai bahaya TBC.
"Kemudian monitoring bersama antara pemerintah pusat dan daerah setiap minggu. Kita melakukan setiap minggu evaluasi, ada Pak Dirjen di sini, Pak Dirjen P2P (Pencegahan Penyakit) di Kementerian Kesehatan yang melakukan evaluasi setiap minggu angka tuberkulosis ini dengan pemerintah daerah," imbuhnya.
(Djanti Virantika)