JAKARTA – Insiden yang dialami atlet Australia Joanna Wietrzyk dalam kompetisi HYROX Beijing memicu evaluasi terhadap prosedur penyelenggaraan lomba. HYROX mengakui adanya ketidakjelasan dalam penerapan protokol setelah Wietrzyk tetap diperbolehkan melanjutkan pertandingan meski mengalami buang air besar tanpa sengaja di arena.
Wietrzyk, yang merupakan juara dunia HYROX, mengikuti kompetisi kategori elite usia 16-24 tahun di Beijing pada Sabtu. Dalam perlombaan tersebut, atlet harus menyelesaikan delapan kali lari sejauh 1 kilometer yang diselingi delapan stasiun latihan.
Video kejadian kemudian beredar luas di media sosial. Rekaman memperlihatkan Wietrzyk tetap melanjutkan perlombaan meski terdapat kotoran pada bagian kakinya.
Atlet asal Australia tersebut bahkan berhasil keluar sebagai pemenang dengan catatan waktu 1 jam 1 menit 23 detik. Namun, keputusan untuk membiarkannya terus bertanding menuai kritik, terutama terkait aspek kesehatan, kebersihan, dan potensi dampaknya terhadap peserta lain.
Melansir laman New York Times, menanggapi kontroversi tersebut, HYROX menyatakan akan mempelajari kembali bagaimana prosedur diterapkan dalam situasi yang terjadi di Beijing.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui Instagram pada Senin, penyelenggara mengakui bahwa perkembangan olahraga membuat mereka menghadapi kondisi baru yang membutuhkan kejelasan lebih lanjut.
HYROX menjelaskan bahwa mereka sebenarnya telah memiliki prosedur terkait kontaminasi biologis dan kondisi medis. Namun, kejadian di Beijing menunjukkan adanya situasi tidak terduga yang membuat penerapan protokol tersebut menjadi kurang jelas.
Penyelenggara mengatakan aturan yang ada dirancang untuk mengakomodasi kompetisi elite sekaligus partisipasi dalam skala besar. Karena itu, mereka menilai kejadian tersebut perlu diteliti agar prosedur ke depan dapat diterapkan dengan lebih jelas.
HYROX juga mengakui bahwa kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan di kalangan komunitasnya. Penyelenggara menyatakan akan mendengarkan berbagai masukan, menyelidiki apa yang terjadi, serta melakukan perbaikan terhadap prosedur yang dimiliki.
Kontroversi tidak hanya datang dari masyarakat di media sosial. Joe Ho, salah satu atlet putra yang tampil di HYROX Beijing, mempertanyakan tanggung jawab penyelenggara terhadap peserta yang ikut terdampak oleh insiden tersebut.
Menurut Ho, para peserta telah membayar untuk mengikuti kompetisi dan memiliki harapan agar pertandingan diselenggarakan secara profesional serta aman.
Ia menilai kondisi yang terjadi berpotensi memberikan dampak fisik maupun psikologis kepada atlet lain yang berada di arena.
Ho juga mempertanyakan kemungkinan adanya bentuk kompensasi bagi peserta yang merasa terdampak, seperti pengembalian biaya pendaftaran atau kredit untuk mengikuti kompetisi berikutnya.
Di tengah kritik terhadap penyelenggaraan kompetisi, HYROX meminta publik tidak mengarahkan kemarahan kepada Wietrzyk.
Penyelenggara mengecam munculnya ancaman kekerasan dan ajakan untuk menyakiti atlet tersebut. HYROX menegaskan bahwa perilaku semacam itu tidak dapat dibenarkan dalam komunitas olahraga.
Mereka menyatakan akan mengidentifikasi pihak yang terlibat dalam ancaman atau pelecehan melalui komentar, pesan langsung, maupun media sosial. Akun yang terbukti melakukan tindakan tersebut disebut akan mendapatkan larangan permanen dari seluruh acara HYROX.
Sementara itu, Wietrzyk sempat mengunggah foto dirinya tengah berada di rumah sakit setelah perlombaan. Dalam unggahan yang kini telah dihapus tersebut, ia menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diterimanya dan mengatakan akan segera kembali.
Buang air besar tanpa sengaja saat mengikuti perlombaan ketahanan bukan merupakan kejadian yang sepenuhnya baru dalam dunia olahraga.
Mantan juara dunia maraton Paula Radcliffe pernah mengalami masalah serupa saat mengikuti London Marathon 2005. Ia bahkan harus buang air kecil di pinggir jalan setelah mengalami kram perut.
Sebelumnya, atlet asal Irlandia Catherina McKiernan juga dilaporkan mengalami kondisi serupa ketika mengikuti lomba pada 1998. Sementara itu, atlet jalan cepat Prancis Yohann Diniz mengalami kejadian tersebut ketika turun di nomor 50 kilometer pada Olimpiade Rio 2016.
Kasus Wietrzyk kini menjadi perhatian tersendiri karena terjadi dalam kompetisi dengan banyak peserta dan memunculkan pertanyaan mengenai batas antara ketangguhan atlet, keselamatan peserta, serta protokol medis dan kebersihan yang diterapkan penyelenggara.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)