Lagi Tren Kerja Pakai Payung di Dalam Kantor demi Kulit Sehat dan Melawan Penuaan Dini

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Jum'at 04 September 2026 07:18 WIB
Lagi Tren Kerja Pakai Payung di Dalam Kantor demi Kulit Sehat dan Melawan Penuaan Dini (Foto: SCMP)
Share :

Kondisi tersebut berkaitan dengan istilah “sindrom bangunan sakit” atau sick building syndrome. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan istilah tersebut pada 1980-an untuk menggambarkan berbagai keluhan yang muncul ketika seseorang berada di dalam bangunan tertentu, meski tidak ditemukan penyakit spesifik sebagai penyebabnya.

Keluhannya dapat berupa sakit kepala, hidung tersumbat, tenggorokan teriritasi, kulit kering, kelelahan, hingga sulit berkonsentrasi. Gejala tersebut dapat semakin terasa ketika seseorang terlalu lama berada di dalam ruangan dan mereda setelah meninggalkan bangunan.

Fenomena ini berkembang seiring perubahan desain bangunan modern dan upaya menghemat energi. Bangunan yang dibuat semakin kedap untuk mengurangi penggunaan energi pendingin atau pemanas dapat membatasi pertukaran udara segar.

Dalam penelitian pada 2008, pakar kedokteran sosial asal India, Sumedha Joshi, mengaitkan sindrom bangunan sakit dengan penurunan produktivitas dan meningkatnya ketidakhadiran pekerja. Ia juga merekomendasikan perbaikan ventilasi, pemberian waktu istirahat yang cukup, serta upaya mengurangi stres di lingkungan kerja.

Pekerja Mulai Khawatir dengan Penampilan

Pembahasan mengenai lingkungan kantor kini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Media sosial turut memunculkan kekhawatiran tentang perubahan penampilan setelah bekerja berjam-jam.

Di TikTok, misalnya, beredar tren membandingkan kondisi wajah pada awal dan akhir jam kerja. Wajah yang terlihat segar dan riasan yang masih rapi pada pagi hari dapat berubah menjadi kulit yang tampak kusam, rambut berminyak, mata lelah, dan wajah yang terlihat lebih bengkak setelah seharian bekerja.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya