Selain itu, dr. Itna mengatakan fungsi paru-paru anak belum berkembang dan berfungsi secara sempurna seperti orang dewasa. Kondisi tersebut membuat anak lebih rentan mengalami dampak kesehatan ketika terpapar asap dari kebakaran hutan dan lahan.
Lansia dan orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Penderita asma, misalnya, termasuk dalam kelompok dengan penyakit pernapasan yang dapat lebih rentan ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
Karena itu, ketika terjadi karhutla dan kualitas udara memburuk, perlindungan terhadap kelompok rentan perlu menjadi prioritas. Mengurangi aktivitas di luar ruangan, menghindari paparan langsung asap, dan memperhatikan kondisi kesehatan dapat membantu mengurangi risiko akibat polusi udara.
“Fungsi paru pada anak-anak belum sempurna seperti dewasa dan itulah yang membuat mereka akan sangat terdampak dari kondisi kebakaran hutan seperti ini,” tutup dr. Itna.
(Djanti Virantika)