Ubi ungu mengandung antioksidan yang dalam penelitian laboratorium menunjukkan potensi membantu menurunkan tekanan darah. Senyawa tersebut diduga dapat memengaruhi sistem yang mengatur tekanan darah, termasuk jalur angiotensin.
Namun, sebagian besar bukti mengenai manfaat ini masih berasal dari penelitian laboratorium. Penelitian pada manusia masih diperlukan untuk memastikan seberapa besar efek konsumsi ubi ungu terhadap tekanan darah.
Ubi ungu juga mengandung vitamin A dan vitamin C. Asupan kedua vitamin tersebut dikaitkan dengan kesehatan sistem kekebalan tubuh dan saluran pernapasan.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara asupan vitamin A dan C yang rendah dengan risiko atau gejala asma. Namun, ubi ungu bukan pengobatan untuk asma, dan bukti bahwa mengonsumsi ubi ungu secara langsung dapat memperbaiki gejala asma masih terbatas.
Kandungan serat dalam ubi ungu dapat membantu menjaga fungsi pencernaan. Serat membantu memperlancar pergerakan usus dan dapat mendukung kesehatan mikrobiota usus.
Mengonsumsi ubi ungu sebagai bagian dari pola makan yang seimbang juga dapat membantu meningkatkan asupan serat harian.
Sebagai makanan berkarbohidrat, ubi ungu dapat menjadi sumber energi bagi tubuh. Teksturnya yang mengenyangkan dan kandungan seratnya membuatnya dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat selain nasi, kentang, atau jenis umbi lainnya.
Ubi ungu juga dapat diolah menjadi berbagai makanan. Makanan itu baik hidangan gurih maupun makanan penutup.
Meski sama-sama termasuk umbi, ubi ungu dan talas bukanlah tanaman yang sama. Ubi ungu berasal dari genus Dioscorea, sedangkan talas berasal dari genus Colocasia. Ubi ungu umumnya memiliki daging berwarna ungu dan rasa yang lebih manis, sementara talas memiliki tekstur yang cenderung lebih pulen dan rasa yang lebih netral.
(Djanti Virantika)