UBI ungu atau ube semakin populer karena warna alaminya yang menarik dan rasanya yang manis serta sedikit nutty. Selain sering digunakan dalam berbagai hidangan, umbi ini juga mengandung sejumlah nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.
Ubi ungu berasal dari spesies Dioscorea alata dan kerap disamakan dengan talas. Padahal, keduanya merupakan jenis umbi yang berbeda. Ubi ungu memiliki kulit berwarna abu-abu kecokelatan dengan daging berwarna ungu, sedangkan talas umumnya memiliki daging berwarna putih atau krem dengan corak ungu pada beberapa varietas.
Selain kaya karbohidrat, ubi ungu mengandung serat, vitamin C, kalium, serta antioksidan seperti antosianin. Berikut sejumlah manfaat yang berpotensi diperoleh dari mengonsumsi ubi ungu.
Dilansir dari Health Line, berikut 7 manfaat ube bagi kesehatan:
Ubi ungu merupakan sumber karbohidrat yang juga menyediakan serat, kalium, dan vitamin C. Dalam sekitar 100 gram ubi ungu matang, terdapat sekitar 140 kalori, 27 gram karbohidrat, 4 gram serat, serta 40 persen kebutuhan harian vitamin C.
Ubi ini juga mengandung sejumlah mineral. Ada juga senyawa tumbuhan yang mendukung kesehatan tubuh.
Warna ungu pada ube berasal dari antosianin, yaitu kelompok antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Ubi ungu juga kaya vitamin C yang berperan sebagai antioksidan dan membantu menjaga kesehatan sel serta mendukung penyerapan zat besi.
Sejumlah penelitian laboratorium dan pada hewan menunjukkan bahwa antosianin seperti sianidin dan peonidin memiliki potensi menghambat pertumbuhan sel kanker tertentu. Namun, temuan tersebut belum berarti bahwa mengonsumsi ubi ungu dapat mencegah atau mengobati kanker pada manusia.
Kandungan flavonoid dalam ubi ungu berpotensi membantu menjaga kontrol gula darah. Beberapa penelitian laboratorium dan pada hewan menunjukkan ekstrak ubi ungu dapat membantu mengurangi stres oksidatif dan resistensi insulin.
Ubi ungu juga memiliki indeks glikemik yang relatif rendah. Artinya, karbohidratnya cenderung dicerna dan diserap lebih lambat sehingga kenaikan gula darah tidak berlangsung secepat makanan dengan indeks glikemik tinggi. Meski demikian, cara pengolahan dan porsi tetap penting, terutama bagi penderita diabetes.