Kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak anak muda. Persoalannya muncul ketika kopi yang dikonsumsi bukan sekadar kopi hitam, melainkan minuman dengan tambahan gula, sirup, susu, krimer, atau topping.
dr. Rosandi mencontohkan pasien diabetes yang memiliki kebiasaan minum kopi hingga enam gelas sehari. Padahal, kandungan gula pada minuman kopi kemasan atau minuman manis lainnya dapat cukup tinggi.
dr. Rosandi memperkirakan satu botol minuman manis dapat mengandung sekitar 20 gram gula. Jika seseorang mengonsumsi dua botol saja, jumlah tersebut sudah mendekati batas asupan gula harian yang disebutkan dalam wawancara. Belum lagi gula yang berasal dari makanan dan minuman lain sepanjang hari.
Artinya, masalahnya bukan sekadar “suka ngopi”, melainkan seberapa banyak gula yang ikut masuk ke dalam tubuh setiap hari.
“Makanya tadi trennya bergeser. Kalau sekarang saya juga banyak tuh ketemu pasien-pasien diabetes karena sehari minum kopi 6 gelas. Nah, padahal kalau kita tahu kandungan kopi, apalagi kalau kopi kemasan, minuman manis kemasan, itu rata-rata kan manisnya sekitar 20 gram ya, kira-kira per botol,” jelas dr. Rosandi.
“Padahal kalau kita tahu kebutuhan gula harian kita tuh maksimal 50 gram kata kalah. Jadi kalau misalnya kita minum 2 botol aja tuh udah memenuhi kebutuhan harian gula kita. Bayangkan kalau minumnya 5-6 gelas setiap hari berlangsung setiap hari, tentunya risiko diabetes meningkat,” sambungnya.
“Nah kalau sudah kena diabetes ya risiko gagal ginjalnya juga semakin meningkat. Jadi kaitannya begitu. Belumlah, gula dari karbon, nasi, dan sebagainya. Makanya itu baru gula dari minuman aja. Jadi kayaknya lebih baik kita kalau pesan no sugar aja, atau less sugar yang itu lebih aman sih,” tutupnya.
(Djanti Virantika)