PENYAKIT ginjal selama ini kerap dianggap sebagai masalah kesehatan yang identik dengan orang lanjut usia. Namun, anggapan tersebut mulai bergeser.
Gangguan kesehatan seperti diabetes dan penyakit ginjal kini juga menjadi perhatian pada kelompok usia muda. Kebiasaan ngopi dan minum manis yang dilakukan Gen Z pun perlu jadi perhatian. Sebab, ada risiko yang diam-diam bisa tingkatkan peluang alami gangguan ginjal.
Salah satu faktor yang disoroti adalah perubahan gaya hidup. Di antaranya, konsumsi gula berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, dan tingginya konsumsi makanan ultra-proses.
Kondisi ini menjadi penting diperhatikan oleh Gen Z, terutama karena kebiasaan sehari-hari seperti nongkrong di kafe, minum kopi susu, membeli minuman kekinian, hingga menghabiskan waktu dengan gawai dapat membuat pola hidup menjadi kurang sehat.
Lantas, apakah kebiasaan minum manis dan ngopi yang dilakukan Gen Z benar bisa munculkan masalah di ginjal? Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Rosandi Himawan, Sp.PD, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone mengatakan hubungan antara minuman manis dan gagal ginjal sebenarnya tidak terjadi secara langsung.
Masalahnya adalah konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes. Ketika diabetes terjadi dan kadar gula darah tidak terkontrol, dalam jangka panjang kondisi tersebut dapat merusak fungsi ginjal.
Jadi, bukan berarti seseorang minum segelas kopi manis hari ini lalu langsung mengalami gagal ginjal. Risikonya berkaitan dengan pola konsumsi yang berlebihan dan berlangsung dalam jangka panjang, terutama ketika turut meningkatkan risiko obesitas, diabetes, atau tekanan darah tinggi.
“Minuman manis langsung gangguan ginjal? Enggak. Cuma melalui mekanisme bahwa ketika seseorang tuh mengonsumsi minuman manis secara berlebihan, maka risiko seseorang diabetes kan menjadi tinggi. Ketika seseorang tersebut terkena diabetes, tentu risiko terjadi gangguan ginjal semakin tinggi,” ujar dr. Rosandi.
“Jadi artinya kenapa sekarang juga tren gangguan ginjal semakin naik karena proporsi pasien diabetes pada usia muda juga semakin meningkat. Ketika diabetesnya enggak terkontrol, maka dia menyebabkan penurunan fungsi ginjal,” lanjutnya.
Kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak anak muda. Persoalannya muncul ketika kopi yang dikonsumsi bukan sekadar kopi hitam, melainkan minuman dengan tambahan gula, sirup, susu, krimer, atau topping.
dr. Rosandi mencontohkan pasien diabetes yang memiliki kebiasaan minum kopi hingga enam gelas sehari. Padahal, kandungan gula pada minuman kopi kemasan atau minuman manis lainnya dapat cukup tinggi.
dr. Rosandi memperkirakan satu botol minuman manis dapat mengandung sekitar 20 gram gula. Jika seseorang mengonsumsi dua botol saja, jumlah tersebut sudah mendekati batas asupan gula harian yang disebutkan dalam wawancara. Belum lagi gula yang berasal dari makanan dan minuman lain sepanjang hari.
Artinya, masalahnya bukan sekadar “suka ngopi”, melainkan seberapa banyak gula yang ikut masuk ke dalam tubuh setiap hari.
“Makanya tadi trennya bergeser. Kalau sekarang saya juga banyak tuh ketemu pasien-pasien diabetes karena sehari minum kopi 6 gelas. Nah, padahal kalau kita tahu kandungan kopi, apalagi kalau kopi kemasan, minuman manis kemasan, itu rata-rata kan manisnya sekitar 20 gram ya, kira-kira per botol,” jelas dr. Rosandi.
“Padahal kalau kita tahu kebutuhan gula harian kita tuh maksimal 50 gram kata kalah. Jadi kalau misalnya kita minum 2 botol aja tuh udah memenuhi kebutuhan harian gula kita. Bayangkan kalau minumnya 5-6 gelas setiap hari berlangsung setiap hari, tentunya risiko diabetes meningkat,” sambungnya.
“Nah kalau sudah kena diabetes ya risiko gagal ginjalnya juga semakin meningkat. Jadi kaitannya begitu. Belumlah, gula dari karbon, nasi, dan sebagainya. Makanya itu baru gula dari minuman aja. Jadi kayaknya lebih baik kita kalau pesan no sugar aja, atau less sugar yang itu lebih aman sih,” tutupnya.
(Djanti Virantika)