Alarm Kesehatan Mental Anak di Indonesia, dari Mulai Gejala Cemas hingga Percobaan Bunuh Diri

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Senin 24 Agustus 2026 16:40 WIB
Alarm Kesehatan Mental Anak, dari Mulai Gejala Cemas hingga Percobaan Bunuh Diri (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Masalah kesehatan mental mulai menunjukkan angka yang mengkhawatirkan pada anak-anak di Indonesia. Hasil skrining Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan gejala kecemasan dan depresi pada ratusan ribu anak dari sekitar 7 juta anak yang telah diperiksa.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak mengalami gejala depresi (depression disorder).

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi.

Menurutnya, persoalan kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius karena dalam kondisi tertentu dapat berujung pada tindakan bunuh diri. Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan adanya peningkatan persentase anak yang pernah mencoba bunuh diri, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Kesehatan Mental Anak Indonesia

Budi menjelaskan, masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu. Lingkungan keluarga, pertemanan, dan pendidikan juga dapat berperan terhadap kondisi psikologis anak.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu menyosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik,” katanya.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan perluasan skrining CKG hingga menjangkau 25 juta anak. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi mengatakan, hasil skrining nantinya akan ditindaklanjuti oleh Puskesmas.

Pemerintah juga tengah mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang saat ini masih terbatas, yakni sekitar 203 orang. Selain itu, layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id disiapkan untuk mendukung intervensi secara cepat.

Di lingkungan pendidikan, Kemenkes mendorong peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta guru kelas dalam mendampingi siswa yang terdeteksi mengalami gejala gangguan kesehatan jiwa.

Upaya deteksi dini tersebut juga diperkuat melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan kementerian dan lembaga pada Kamis (5/3). Kolaborasi ini bertujuan membangun sistem penanganan kesehatan jiwa anak yang terintegrasi, mulai dari pencegahan hingga pengobatan dan rehabilitasi.

Sembilan instansi yang terlibat meliputi Kemenkes, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Sosial (Kemensos), dan Polri.

Melalui SKB tersebut, pemerintah juga berkomitmen menjaga kerahasiaan data pribadi anak untuk mencegah stigma. Langkah ini diharapkan dapat memastikan setiap anak memperoleh perlindungan dan penanganan kesehatan mental secara komprehensif, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya