JAKARTA - Tren kecantikan di kalangan generasi muda kembali menghadirkan gaya yang tidak biasa. Sejumlah perempuan muda di China kini memilih mewarnai bulu ketiak dengan warna-warna mencolok, mulai dari merah muda, biru, kuning, hingga hijau.
Bagi mereka, mewarnai bulu ketiak bukan sekadar mengikuti tren penampilan. Pilihan tersebut juga menjadi cara untuk mengekspresikan diri sekaligus menunjukkan kebebasan dalam menentukan bagaimana tubuh mereka ingin ditampilkan.
Fenomena ini semakin banyak terlihat di media sosial China, terutama RedNote. Pengguna platform tersebut membagikan foto hasil pewarnaan bulu ketiak hingga tutorial mengenai tahapan pemutihan dan pewarnaan.
Sebagian pengguna memilih warna cerah untuk membuat bulu ketiak menjadi bagian dari penampilan. Namun, ada pula yang mengingatkan mengenai kemungkinan munculnya iritasi kulit dan warna yang tidak bertahan lama setelah proses pewarnaan, demikian dilansir dari SCMP.
Bagi sebagian perempuan yang mengikuti tren tersebut, keputusan mewarnai bulu ketiak berkaitan dengan perjalanan menerima penampilan alami tubuh.
Seorang perempuan yang menggunakan nama samaran Xiaokui mengaku telah merasa tidak nyaman dengan bulu ketiaknya sejak masih duduk di sekolah dasar. Perasaan tersebut muncul setelah seorang teman menyinggung rambut yang tumbuh di bawah lengannya.
Komentar itu membuat Xiaokui memandang bulu ketiak sebagai sesuatu yang memalukan dan tidak menarik. Ia kemudian membiarkan bulu tersebut tumbuh selama bertahun-tahun.
Perubahan pandangan terjadi setelah ia melihat seorang influencer menampilkan bulu ketiak berwarna merah muda menyerupai warna buah naga. Xiaokui kemudian mencoba mewarnai bulu ketiaknya menjadi pirang dan membagikan hasilnya di media sosial.
Respons positif dari teman-temannya membuatnya merasa lebih percaya diri terhadap penampilannya.
Pengalaman serupa dialami Shanshan. Ia terinspirasi setelah melihat penampilan Lady Gaga dengan bulu ketiak berwarna hijau. Shanshan kemudian mencoba memberikan warna kuning pada bulu ketiaknya.
Ia disebut melakukan pewarnaan sebanyak tiga kali. Setiap percobaan membuatnya semakin nyaman menerima tampilan alami tubuhnya.
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan perubahan pandangan terhadap bulu tubuh perempuan di Tiongkok.
Secara historis, keberadaan bulu ketiak sebenarnya bukan sesuatu yang selalu dianggap tabu. Pengaruh pemikiran Konfusianisme yang menekankan penghormatan terhadap tubuh yang diwariskan orang tua membuat perubahan fisik secara sembarangan tidak dianjurkan.
Sejumlah karya seni dari Dinasti Song (960–1279) bahkan menggambarkan perempuan dengan bulu ketiak yang terlihat.
Bulu ketiak juga pernah ditampilkan dalam film modern. Dalam film Lust, Caution garapan Ang Lee, aktris Tang Wei tampil mengenakan qipao dengan bulu ketiak yang dibiarkan alami. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya menggambarkan standar kecantikan Shanghai pada era 1930-an.
Tang Wei dilaporkan membiarkan bulu ketiaknya tumbuh selama sekitar delapan bulan sebelum proses syuting berlangsung.
Sejumlah pengamat budaya menilai stigma terhadap bulu ketiak perempuan di Tiongkok tidak sepenuhnya berasal dari tradisi lokal. Pandangan bahwa perempuan idealnya memiliki kulit yang halus dan bebas bulu disebut semakin berkembang seiring masuknya pengaruh budaya populer Barat.
Pada dekade 1980-an dan 1990-an, film, televisi, majalah mode, serta iklan produk pencukur dan penghilang bulu ikut memperkuat gambaran tersebut.
Namun, standar kecantikan kini mulai mengalami perubahan. Gerakan body positivity yang berkembang secara global turut mendorong penerimaan terhadap berbagai bentuk tubuh dan karakteristik alami, termasuk bulu tubuh.
Media sosial kemudian menjadi ruang bagi generasi muda untuk membicarakan kembali standar tersebut. Mewarnai bulu ketiak menjadi salah satu bentuk ekspresi yang muncul dari perubahan cara pandang itu.
Pada akhirnya, tren tersebut tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk mengikuti standar kecantikan tertentu. Bagi sebagian perempuan, pilihan untuk mencukur, membiarkan, atau bahkan mewarnai bulu ketiak menjadi bagian dari kebebasan menentukan penampilan dan kenyamanan terhadap tubuh sendiri.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)