Zat terlarang juga dapat mengganggu fungsi seksual. Beberapa jenis narkoba, seperti amfetamin, barbiturat, ganja, kokain, dan heroin, dapat memengaruhi sistem saraf maupun pembuluh darah.
Dampaknya dapat berupa perubahan gairah seksual, kesulitan mendapatkan ereksi, atau kesulitan mempertahankannya.
Jika penggunaan zat sudah sulit dikendalikan dan mulai berdampak pada kesehatan atau kehidupan sehari-hari, mencari bantuan tenaga kesehatan merupakan langkah penting.
12. Depresi, Stres, dan Kecemasan
Faktor psikologis merupakan salah satu penyebab yang tidak boleh diabaikan. Depresi, stres, kecemasan, rasa takut, hingga rasa bersalah terkait aktivitas seksual dapat memengaruhi kemampuan mempertahankan ereksi.
Kecemasan performa, misalnya, dapat membuat pria terlalu fokus pada apakah dirinya mampu mempertahankan ereksi. Kondisi tersebut justru dapat mengganggu respons seksual dan membuat ereksi menghilang.
Bahkan stres yang sifatnya sementara dapat memengaruhi gairah dan kemampuan seseorang untuk menikmati hubungan seksual.
Kehilangan ereksi sesekali tidak selalu berarti adanya disfungsi ereksi. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh kelelahan, stres, konsumsi alkohol, atau gangguan konsentrasi saat berhubungan seksual.
Namun, jika penis sering tiba-tiba loyo, sulit mempertahankan ereksi, atau kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan seksual, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah penyebabnya berkaitan dengan kondisi medis, obat-obatan, gaya hidup, atau faktor psikologis. Penanganan pun dapat disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan.
Yang terpenting, jangan merasa malu untuk membicarakan masalah ereksi dengan tenaga medis. Gangguan tersebut cukup umum dan dalam banyak kasus dapat ditangani setelah penyebabnya diketahui.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)