Alasan Bapak-Bapak Khususnya yang Punya Anak Harus Berhenti Merokok

Niko Prayoga , Jurnalis
Kamis 13 Agustus 2026 21:10 WIB
Alasan Bapak-Bapak Khususnya yang Punya Anak Harus Berhenti Merokok (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Kebiasaan merokok pada orang tua tidak hanya berdampak terhadap kesehatan diri sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi anak-anak yang berada di sekitarnya. Karena itu, dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengingatkan para bapak yang masih merokok untuk mempertimbangkan berhenti demi kesehatan dan masa depan anak.

Menurut dr. Tirta, memiliki anak dapat menjadi salah satu alasan kuat bagi seorang ayah untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Terlebih jika aktivitas tersebut dilakukan di rumah dan disaksikan langsung oleh anak.

“Edukasi ini ditujukan khususnya buat kalian para bapak-bapak yang sudah mempunyai anak kecil atau beranjak remaja dan kalian memiliki kebiasaan merokok alias ngudud,” kata dr. Tirta dalam unggahan video di akun Instagram-nya, dikutip Kamis (13/8/2026).

Ia menjelaskan, alasan pertama yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan anak meniru perilaku orang tua. Ketika seorang ayah tetap merokok di hadapan anak, kebiasaan tersebut berpotensi dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan kemudian ditiru.

“Kalian tahu kalau kalian masih ngudud itu, apalagi ngududnya di rumah dan dilihat anak kalian: satu, potensi ditiru,” ucapnya.

Selain berpotensi ditiru, asap rokok juga dapat memberikan dampak terhadap orang-orang di sekitar, termasuk anak. Menurut dr. Tirta, paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

“Kedua, rentan menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bisa rentan menyebabkan pneumonia dan bronkitis kronis pada anak Anda. Karena asape iki nempel ning dindi, wis kena polusi, asap bakaran sampah, tambah ududmu,” tutur dr. Tirta.

Berhenti Merokok Setelah 16 Tahun

Dr. Tirta kemudian membagikan pengalamannya dalam meninggalkan kebiasaan merokok. Ia mengaku telah menjadi perokok selama sekitar 16 tahun sebelum akhirnya memutuskan berhenti.

Keputusan tersebut salah satunya didorong oleh kekhawatiran bahwa kebiasaannya akan ditiru oleh sang anak. Kini, ia mengaku telah berhenti merokok selama sekitar empat tahun.

“Kalau bisa kalian itu berhenti. Seperti saya nih, saya itu rokok jujur 16 tahun, wis doktor rokok ora pekok ya kan. Akhirnya saya menyadari kepekokan saya dan saya berhenti ngudud karena saya takut anak saya meniru, dan alhamdulillah sudah jalan empat tahun setengah nih berhenti,” ungkapnya.

Alihkan Keinginan Merokok

Dr. Tirta juga membagikan sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang berhenti merokok. Salah satunya adalah menghentikan kebiasaan tersebut dan mengalihkan keinginan merokok ke kegiatan yang lebih positif, seperti berolahraga.

Menurutnya, tekad yang kuat menjadi salah satu faktor penting dalam proses berhenti merokok. Namun, ia mengingatkan bahwa perokok yang sudah mengalami ketergantungan berat dapat menghadapi gejala putus nikotin atau withdrawal syndrome.

“Nah, buat kalian semua, tipsnya untuk berhenti, utamanya bapak-bapak ini bisa seperti saya, langsung berhenti dadakan karena dialihkan ke olahraga dan niatnya kuat. Tapi kalau kalian yang sudah kecanduan banget, itu akan mengalami withdrawal syndrome,” beber dr. Tirta.

Jika berhenti secara langsung terasa sulit, ia menyarankan untuk mendapatkan bantuan melalui konseling atau psikolog. Perokok juga dapat memanfaatkan layanan konseling berhenti merokok yang tersedia.

“Nah, tipsnya bisa ke terapi konseling, itu karena ada kontaknya di tiap bungkus rokok, atau terapi behavior, ya kan, ke psikolog. Atau langsung dialihkan ke kegiatan positif, tapi jangan malah makan terus malah obes,” tambahnya.

Pada akhirnya, dr. Tirta menekankan bahwa keinginan yang kuat merupakan bagian penting dalam proses berhenti merokok. Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam proses tersebut bukan berarti seseorang memiliki mental yang lemah.

“Nek niate wis kenceng, digoda teman pun mau social smoker tetap akan bisa berhenti. Dan ingat, orang yang gagal berhenti ngrokok itu bukan mentalnya lemah, karena dia lagi proses. Mengurangi rokok itu juga proses, mengalihkan bentuk itu juga proses. Dan semangat buat kalian bapak-bapak yang berproses,” pungkasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya