“Kedua, rentan menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bisa rentan menyebabkan pneumonia dan bronkitis kronis pada anak Anda. Karena asape iki nempel ning dindi, wis kena polusi, asap bakaran sampah, tambah ududmu,” tutur dr. Tirta.
Dr. Tirta kemudian membagikan pengalamannya dalam meninggalkan kebiasaan merokok. Ia mengaku telah menjadi perokok selama sekitar 16 tahun sebelum akhirnya memutuskan berhenti.
Keputusan tersebut salah satunya didorong oleh kekhawatiran bahwa kebiasaannya akan ditiru oleh sang anak. Kini, ia mengaku telah berhenti merokok selama sekitar empat tahun.
“Kalau bisa kalian itu berhenti. Seperti saya nih, saya itu rokok jujur 16 tahun, wis doktor rokok ora pekok ya kan. Akhirnya saya menyadari kepekokan saya dan saya berhenti ngudud karena saya takut anak saya meniru, dan alhamdulillah sudah jalan empat tahun setengah nih berhenti,” ungkapnya.
Dr. Tirta juga membagikan sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang berhenti merokok. Salah satunya adalah menghentikan kebiasaan tersebut dan mengalihkan keinginan merokok ke kegiatan yang lebih positif, seperti berolahraga.
Menurutnya, tekad yang kuat menjadi salah satu faktor penting dalam proses berhenti merokok. Namun, ia mengingatkan bahwa perokok yang sudah mengalami ketergantungan berat dapat menghadapi gejala putus nikotin atau withdrawal syndrome.