Mengenal Glukomanan, Serat yang Bantu Jaga Gula Darah Setelah Makan

Niko Prayoga , Jurnalis
Rabu 12 Agustus 2026 13:05 WIB
Mengenal glukomanan. (Foto: Freepik)
Share :

PERNAHKAH kamu mendengar kata glukomanan? Ini adalah serat penting yang bantu menjaga gula darah setelah makan.

Menjaga kadar gula darah sendiri kerap diidentikkan dengan pantangan ekstrem. Salah satunya mengeliminasi nasi secara total dari piring saji.

Padahal, mengelola gula darah sebenarnya tak melulu soal memangkas karbohidrat secara drastic. Ada cara lain yang bisa dilakukan dengan memilih jenis karbohidrat yang tepat untuk tubuh.

1. Cegah Gula Darah

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Gia Pratama dalam unggahan video di akun Instagramnya menjelaskan analogi sederhana mengenai bagaimana makanan mempengaruhi kadar gula dalam tubuh. Menurutnya, proses masuknya glukosa ke aliran darah bekerja layaknya arus lalu lintas di jalan raya.

"Teman-teman bayangkan aliran darah kita itu seperti jalan raya. Setelah makan, glukosa akan masuk seperti kendaraan. Kalau semuanya masuk berbarengan sekaligus, jalannya jadi padat. Sama seperti gula darah yang bisa naik dengan cepat," ujar dr. Gia.

Untuk mencegah "kemacetan" atau lonjakan gula darah mendadak tersebut, tubuh membutuhkan asupan yang mampu memperlambat proses penyerapan. Di sinilah peran penting serat, khususnya jenis serat khusus yang kini kian populer di dunia gaya hidup sehat, yaitu glukomanan.

"Nah, makanan yang mengandung serat lebih tinggi dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa sehingga kenaikan gula darah menjadi tetap bertahap. Salah satu jenis serat yang sudah cukup banyak diteliti adalah glukomanan," tambah dia.

 

2. Mengenal Glukomanan

dr. Gia menjelaskan, glukomanan sendiri terbukti memberikan respons gula darah yang lebih rendah khususnya pada kandungan nasi dengan bahan dasar konjak.

“Karena itu, nasi dengan glukomanan bisa jadi salah satu alternatif sumber karbohidrat sebagai bagian pola makan sehat,” jelas dr. Gia.

Mengutip dari WebMD, glukomanan sendiri merupakan jenis serat larut air (soluble fiber) yang secara alami diekstrak dari akar tanaman konjak. Di pasaran, serat ini juga kerap dimanfaatkan sebagai suplemen makanan tanpa resep yang efektif untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan hingga mengoptimalkan metabolisme tubuh.

Menariknya, tanaman konjak sebagai sumber utama glukomanan bukanlah hal yang asing di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Mengutip publikasi dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), konjak (Amorphophallus konjac) adalah tanaman umbi besar yang berkerabat dekat dengan umbi porang yang tumbuh subur di tanah Jawa.

Tanaman ini memiliki ciri khas batang besar dan panjang berwarna ungu gelap yang diselimuti daun pelindung (braktea) berwarna senada. Di dunia kuliner sehat, olahan umbi konjak lebih dikenal dengan nama konyaku atau shirataki. Produk olahan ini begitu digemari oleh para pegiat diet karena karakteristiknya yang sangat tinggi serat namun tergolong ekstra rendah kalori.

Berdasarkan data dari University of Hawaii yang dilansir Kemenkes, dalam setiap porsi ±200 gram konyaku, kandungan kalorinya hanya berkisar 17 kalori dengan total karbohidrat 4 gram dan serat sebanyak 4 gram, tanpa kandungan lemak maupun protein. Selain itu, konyaku juga mengemas ragam mineral penting seperti kalium (102 mg), kalsium (73 mg), serta magnesium dan zat besi yang bermanfaat bagi tubuh.

Kombinasi nutrisi inilah yang menjadikan olahan berbasis konjak dan glukomanan sebagai alternatif karbohidrat ramah gula darah. Uji klinis pun menunjukkan bahwa konsumsi nasi berbahan dasar konjak yang kaya glukomanan menghasilkan respons gula darah setelah makan yang jauh lebih rendah dibandingkan nasi putih biasa.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya