dr. Gia menjelaskan, glukomanan sendiri terbukti memberikan respons gula darah yang lebih rendah khususnya pada kandungan nasi dengan bahan dasar konjak.
“Karena itu, nasi dengan glukomanan bisa jadi salah satu alternatif sumber karbohidrat sebagai bagian pola makan sehat,” jelas dr. Gia.
Mengutip dari WebMD, glukomanan sendiri merupakan jenis serat larut air (soluble fiber) yang secara alami diekstrak dari akar tanaman konjak. Di pasaran, serat ini juga kerap dimanfaatkan sebagai suplemen makanan tanpa resep yang efektif untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan hingga mengoptimalkan metabolisme tubuh.
Menariknya, tanaman konjak sebagai sumber utama glukomanan bukanlah hal yang asing di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Mengutip publikasi dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), konjak (Amorphophallus konjac) adalah tanaman umbi besar yang berkerabat dekat dengan umbi porang yang tumbuh subur di tanah Jawa.
Tanaman ini memiliki ciri khas batang besar dan panjang berwarna ungu gelap yang diselimuti daun pelindung (braktea) berwarna senada. Di dunia kuliner sehat, olahan umbi konjak lebih dikenal dengan nama konyaku atau shirataki. Produk olahan ini begitu digemari oleh para pegiat diet karena karakteristiknya yang sangat tinggi serat namun tergolong ekstra rendah kalori.
Berdasarkan data dari University of Hawaii yang dilansir Kemenkes, dalam setiap porsi ±200 gram konyaku, kandungan kalorinya hanya berkisar 17 kalori dengan total karbohidrat 4 gram dan serat sebanyak 4 gram, tanpa kandungan lemak maupun protein. Selain itu, konyaku juga mengemas ragam mineral penting seperti kalium (102 mg), kalsium (73 mg), serta magnesium dan zat besi yang bermanfaat bagi tubuh.
Kombinasi nutrisi inilah yang menjadikan olahan berbasis konjak dan glukomanan sebagai alternatif karbohidrat ramah gula darah. Uji klinis pun menunjukkan bahwa konsumsi nasi berbahan dasar konjak yang kaya glukomanan menghasilkan respons gula darah setelah makan yang jauh lebih rendah dibandingkan nasi putih biasa.
(Djanti Virantika)