PERNAHKAH kamu terbangun di pagi hari, lalu merasa tergoda untuk memejamkan mata kembali selama 30 menit. Tapi, kamu akhirnya malah terjebak dalam mimpi yang sangat nyata, absurd, atau bahkan menakutkan?
Sensasi membingungkan antara bermimpi atau kejadian nyata saat bangun kedua kalinya ini ternyata bukan sekadar kebetulan. Ternyata, ada penjelasan medisnya soal mekanisme biologis unik yang terjadi di dalam otak.
Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi konsultan ginjal dan hipertensi (nefrologi) sekaligus influencer kesehatan, dr. Decsa Medika Hertanto, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan erat dengan fenomena medis yang dinamakan sleep inertia.
“Pernah enggak kalian udah bangun jam 5 pagi terus mikir, 'Tidur 30 menit lagi kayaknya enak deh’. Eh pas bangun kedua kalinya, kalian baru ngalamin mimpi yang terasa nyata banget. Kadang nakutin, sampai bingung, ‘Ini mimpi atau beneran?’” ujar dr. Decsa.
Secara ilmiah, saat alarm berbunyi dan seseorang terbangun, tidak seluruh bagian otak langsung aktif secara bersamaan. Menurutnya, otak manusia bekerja layaknya sebuah kantor dengan berbagai divisi yang memiliki jam masuk berbeda.
“Ada penjelasan ilmiahnya. Namanya sleep inertia. Bayangin otak kalian itu kantor dengan banyak divisi. Pas alarm bunyi, tit-tit-tit, enggak semua divisi masuk bareng. Divisi gerak badan duluan, makanya bisa jalan ke kamar mandi. Tapi divisi mikir logis, alias cortex prefrontal, itu kayak bosnya yang masih ngopi di kafe. Telat masuk sampai 30 menit,” jelasnya.
dr. Decsa menjelaskan, riset menunjukkan bahwa aliran darah menuju area prefrontal cortex atau bagian otak yang bertanggung jawab atas logika dan pemikiran rasional, membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 30 menit untuk kembali normal setelah tertidur.
Masalah timbul ketika seseorang memutuskan untuk kembali tidur di tengah jeda waktu transisi tersebut. Saat memutuskan memejamkan mata lagi di pagi hari, otak tidak mengulang siklus tidur dari awal, melainkan langsung meloncat ke fase Rapid Eye Movement (REM), yaitu fase dimana aktivitas bermimpi terjadi.
“Menurut riset, aliran darah ke prefrontal butuh 5 sampai 30 menit buat balik normal. Nah, kalau di fase ini kalian tidur lagi, otak itu langsung lompat ke fase rapid eye movement atau REM, fase mimpi. Karena pagi hari, otak udah lapar untuk masuk ke fase mimpi,” papar dr. Decsa.
Kondisi tidur yang terpotong sebelumnya memicu fenomena yang dikenal sebagai REM rebound. Pada situasi ini, otak seolah "balas dendam" untuk memasuki fase REM secara lebih cepat dan intensif.
“Plus ada fenomena namanya REM rebound. Tidur kepotong bikin otak balas dendam masuk REM lebih cepat dan lebih intens. Hasilnya, mimpi jadi panjang, vivid, terasa real. Apalagi di fase REM, amigdala dan hipokampus pusat emosi aktif banget. Sementara prefrontal kita hampir off. Makanya mimpinya emosional dan absurd,” tambah dr. Decsa.
Kombinasi antara pusat emosi (amigdala dan hipokampus) yang sangat aktif serta prefrontal cortex yang masih dalam kondisi pasif inilah yang membuat mimpi di pagi hari terasa begitu emosional, aneh, dan sangat nyata.
Agar tidak terjebak dalam rasa pening dan rentetan mimpi aneh akibat sleep inertia, dr. Decsa menyarankan untuk langsung beraktivitas begitu alarm pertama berbunyi ketimbang menambah durasi tidur singkat.
“Nah jadi, kalau udah bangun pagi, mending kena sinar matahari langsung, minum air putih, gerak ringan. Daripada tidur lagi yang malah bikin pusing dan dihantui mimpi-mimpi yang aneh,” pungkasnya.
(Djanti Virantika)