JAKARTA – Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan penuh tuntutan, banyak perempuan terbiasa menjalankan berbagai peran sekaligus. Menjadi profesional, ibu, istri, anak, pemimpin, hingga aktif dalam berbagai kegiatan sosial sering kali membuat mereka lebih banyak memberi kepada orang lain daripada menyediakan waktu untuk dirinya sendiri.
Founder Yayasan Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) Meiline Tenardi menghadirkan workshop bertajuk “When Life Feels Empty: Finding Meaning, Connection and Yourself Again”. Kegiatan ini berangkat dari kepedulian terhadap pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis perempuan.
Workshop diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan profesional, entrepreneur, komunitas, dan masyarakat umum. Acara ini dirancang sebagai ruang refleksi bagi perempuan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, mengenali dirinya kembali, serta membangun kehidupan yang lebih sehat, seimbang, dan bermakna.
Menurut Meiline, workshop ini lahir dari sebuah realitas yang sangat dekat dengan kehidupan perempuan modern. “Kita terbiasa mengurus keluarga, pekerjaan, bisnis, organisasi, dan begitu banyak tanggung jawab lainnya,” ucapnya.
“Kesibukan membuat kalender kita penuh, tetapi belum tentu mengisi hati dan jiwa kita. Karena itu, sesekali kita juga perlu berhenti sejenak untuk mendengarkan diri sendiri,” kata Meiline.
Ia menegaskan bahwa workshop ini bukan diperuntukkan bagi perempuan yang sedang mengalami masalah, melainkan sebagai ruang belajar dan refleksi agar setiap perempuan memiliki kesempatan merawat kesehatan mental dan kesejahteraan psikologisnya sebelum benar-benar mengalami kelelahan.
“Merawat diri bukan berarti egois. Justru ketika kita mengenal, memahami, dan merawat diri dengan baik, kita akan memiliki kapasitas yang lebih besar untuk hadir bagi keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan sekitar,” tuturnya.
Workshop menghadirkan tiga narasumber dari disiplin ilmu yang berbeda, yaitu Ratih Ibrahim, Senior Clinical Psychologist sekaligus Founder & CEO Personal Growth, Ineke Machdi, Breathwork Facilitator, dan Antaresa Hendita, Counselling Practitioner.
Dalam sesinya, Ratih Ibrahim menjelaskan bahwa rasa kesepian (loneliness) dan rasa hampa (emptiness) merupakan dua pengalaman yang berbeda, meskipun dapat saling berkaitan.
“Seseorang bisa memiliki banyak relasi, aktif dalam berbagai aktivitas, tetapi tetap merasa kehilangan makna. Karena itu, hubungan dengan diri sendiri menjadi sama pentingnya dengan hubungan yang kita bangun dengan orang lain,” ujarnya.
Melengkapi perspektif psikologi, Ineke Machdi mengajak peserta memahami bagaimana napas dapat menjadi jembatan antara tubuh dan pikiran. “Tubuh selalu memberikan sinyal ketika kita terlalu lama berada dalam tekanan. Ketika kita kembali bernapas dengan penuh kesadaran, kita sedang memberi kesempatan kepada tubuh untuk kembali merasa aman dan menemukan keseimbangannya,” ucapnya.
Peserta kemudian mengikuti sesi breathwork sebagai pengalaman langsung untuk membantu mengurangi ketegangan, meningkatkan kesadaran diri, serta menghadirkan rasa tenang dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Antaresa Hendita mengajak peserta melihat kembali pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri.
“Sering kali perempuan merasa harus selalu kuat dan selalu mendahulukan orang lain. Padahal memahami kebutuhan diri sendiri bukanlah bentuk egoisme, tetapi fondasi agar kita mampu terus hadir dengan sehat bagi orang-orang yang kita cintai,” katanya.
Selain sesi edukasi, workshop juga menghadirkan diskusi interaktif, praktik breathwork, pemeriksaan kesehatan, serta berbagai aktivitas yang mendukung pendekatan kesehatan secara lebih holistik.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi KPPB bersama Mobiliari sebagai mitra kolaborasi utama, Personal Growth, Breathwork Indonesia, School for Moms, serta didukung oleh berbagai media partner dan supporting partner.
Melalui workshop ini, KPPB berharap semakin banyak perempuan memiliki keberanian untuk mengambil jeda, lebih mengenal dirinya sendiri, dan menyadari bahwa kesehatan mental serta kesejahteraan psikologis merupakan bagian penting dari kualitas hidup.
Menutup acara, Meiline menyampaikan harapan agar setiap peserta membawa pulang lebih dari sekadar ilmu.
“Harapan kami sederhana. Semoga setiap perempuan pulang bukan hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga keberanian untuk lebih mendengarkan dirinya sendiri, menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologisnya,” katanya.
Ia juga menambahkan, agar setiap perempuan menjalani hidup dengan lebih bermakna. “Karena ketika hubungan kita dengan diri sendiri menjadi lebih sehat, kita akan memiliki energi yang lebih besar untuk terus berkarya, mencintai, dan memberi manfaat bagi orang lain,” ucapnya.
(Agustina Wulandari )