Hasilnya cukup mengejutkan, kelompok mahasiswa yang mengandalkan ChatGPT hanya mampu meraih rata-rata skor retensi pengetahuan sebesar 57,5 persen. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan kelompok mahasiswa yang belajar secara mandiri/tradisional, yang berhasil mencatatkan rerata skor hingga 68,5 persen. Selisih kinerja hingga 11 poin persentase ini memperlihatkan bahwa kemudahan yang diberikan AI menciptakan jurang penurunan daya ingat yang nyata.
Mengutip penjelasan dalam temuan jurnal tersebut, fenomena ini terjadi akibat proses yang disebut pelepasan beban kognitif (cognitive offloading). Ketika seseorang mendapatkan jawaban komprehensif secara serba cepat dari AI, otak cenderung melewatkan tantangan atau productive struggle yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk membentuk ingatan jangka panjang.
Secara teoritis, pemahaman yang mendalam memerlukan proses berpikir yang membutuhkan usaha (effortful process). Saat proses berpikir kritis ini diambil alih oleh teknologi, ikatan memori pada otak menjadi lebih lemah sehingga informasi yang didapat lebih cepat terlupakan.
Dampak negatif ini bahkan terbukti konsisten terjadi pada berbagai topik pelajaran dan tidak berkurang meskipun mahasiswa tersebut sudah sangat mahir menggunakan teknologi AI.
Hal lain yang memprihatinkan dari ketergantungan pada AI adalah munculnya ilusi pemahaman atau 'titik buta metakognitif'. Kondisi ini membuat seseorang kerap mengelirukan kelancaran dan kecanggihan jawaban yang dihasilkan oleh AI sebagai bentuk pemahaman personal mereka sendiri. Padahal, otak mereka sebenarnya belum benar-benar mencerna atau menguasai materi tersebut.
(Agustina Wulandari )