JAKARTA — Anggapan bahwa mengkonsumsi telur dapat memicu timbulnya bisul masih melekat kuat sebagai mitos di tengah masyarakat Indonesia. Kepercayaan awam ini kerap membuat sebagian orang ragu untuk mengonsumsi telur, padahal bahan makanan tersebut merupakan salah satu sumber protein hewani yang murah dan kaya nutrisi.
Mitos ini kembali mencuri perhatian publik setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Sudaryono yang dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (27/7) mengaku banyak mengkonsumsi telur saat kecil hingga mengalami bisulan. Pernyataan nostalgia tersebut langsung menyita perhatian publik dan kembali memicu diskusi hangat terkait kaitan antara konsumsi telur dan kesehatan kulit.
Menanggapi fenomena tersebut, Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik sekaligus influencer kesehatan Ayman Alatas dalam unggahan video di akun Instagramnya menegaskan bahwa anggapan telur sebagai penyebab bisulan adalah murni mitos yang tidak tepat secara medis. Ia menjelaskan bahwa bisul sebetulnya muncul karena bakteri Staphylococcus aureus.
“Izin meluruskan. Jadi mitos telur bikin bisul ini udah ada lama, sampai sekarang ini masih terus dibahas katanya makan telur itu bikin bisulan. Pada dasarnya, bisulan itu karena infeksi bakteri, kebetulan aku spesialis mikrobiologi klinik, ini kompetensi aku. Disebabkan sama bakterinya adalah Staphylococcus aureus yang paling sering. Kalau jerawat, itu disebabkan Cutibacterium acnes,” kata dr. Ayman dikutip Sabtu (25/7/2026).
Lebih lanjut, dr. Ayman menjelaskan mengapa sebagian orang mengaitkan munculnya bisul setelah memakan telur. Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan reaksi alergi atau sensitivitas kulit pada individu tertentu, bukan karena pengaruh langsung dari telur itu sendiri.
“Pada beberapa orang, memang ada yang sensitif dengan telur atau alergi dengan telur. Mungkin reaksinya reaksi kulit, gatal, terus mungkin ada yang merah-merah, reaksi terhadap telur,” ucapnya.
“Nah, misalkan digaruk-garuk, kan bisa menyebabkan luka, jadi infeksi, terus jadi bisulan. Tapi bukan telurnya yang nyebabin bisulnya, tetap infeksinya. Cuman karena sensitif, jadi gatal, digaruk-garuk, bisa jadi bisulan," kata dr. Ayman.
Selain faktor gatal akibat garukan yang memicu luka dan infeksi bakteri, dr. Ayman juga menambahkan sisi teoritis mengenai reaksi peradangan (inflamasi) akibat alergi yang bisa memperburuk kondisi kulit yang memang sudah bermasalah.
"Selain itu, secara teoritis reaksi alergi atau sensitivitas kan menghasilkan reaksi peradangan atau inflamasi. Nah, bisa aja reaksi inflamasi itu memperburuk kondisi kulit. Bisa aja udah ada kayak bisul kecil, karena lagi timbul sensitivitas atau alergi tadi, reaksi peradangannya memperparah kondisinya, jadinya tambah parah lah bisulnya. Tapi bukan menyebabkan bisulnya ya, jadi dua hal yang berbeda," tutur dr. Ayman.
Ia menegaskan kembali agar masyarakat tidak lagi keliru memahami penyebab bisul dan tidak takut mengkonsumsi telur selama tidak memiliki riwayat alergi. "Jadi, mitos telur menyebabkan bisul. Bisul disebabkan oleh infeksi bakteri di kulit,” ucapnya.
(Agustina Wulandari )