"Pada orang yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan elektrolit, atau bahkan pada sebagian orang yang tampak sehat tetapi rentan, lonjakan hormon stres ini dapat memicu aritmia, yaitu gangguan irama jantung," tambah dr. Bobby.
Ia juga menyebut sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ledakan emosi dapat memicu fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF), takikardia ventrikel, hingga henti jantung mendadak pada sebagian individu.
"Mengapa bisa terjadi? Karena saat marah terjadi ketidakseimbangan sistem saraf otonom. Aktivitas saraf simpatis meningkat tajam sehingga sel-sel otot jantung menjadi lebih mudah mengalami gangguan impuls listrik. Bila kondisi ini berulang terus-menerus, risiko gangguan irama jantung juga dapat meningkat," ungkapnya.
Meski demikian, kondisi tersebut dapat dicegah dengan mengelola emosi secara lebih baik. Salah satu langkah yang disarankan adalah mengenali pemicu kemarahan dan memberi jeda sebelum bereaksi, misalnya dengan menghitung hingga 10 atau meninggalkan situasi yang memicu emosi.
"Bagaimana cara mencegahnya? Kenali pemicu kemarahan. Beri jeda sebelum bereaksi (misalnya hitung sampai 10 atau tinggalkan situasi sejenak)," tutur dr. Bobby.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur, rutin berolahraga, serta melakukan teknik relaksasi, seperti latihan pernapasan atau zikir sesuai keyakinan masing-masing.