JAKARTA – Menjaga kepadatan tulang tidak selalu harus dilakukan dengan olahraga berat. Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Cecep Hermawan menyebut kebiasaan melakukan lompat kecil secara rutin dapat membantu merangsang pembentukan tulang baru dan mengurangi risiko pengeroposan tulang seiring bertambahnya usia.
Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dr. Cecep menjelaskan bahwa tulang merupakan jaringan yang terus mengalami proses pembentukan dan penguraian. Karena itu, kesehatan tulang perlu dijaga sejak dini agar kepadatannya tidak terus menurun saat memasuki usia lanjut.
"Coba tiap pagi lompat kecil kayak gini. Sebenarnya apa sih yang terjadi di tulang kita? Makin nambah umur, badan makin bungkuk, tinggi nyusut. Itu tanda kepadatan tulang turun. Kabar baiknya, tulang itu kayak tabungan. Bisa diisi atau dijaga saldonya," kata dr. Cecep, dikutip Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, tulang membutuhkan rangsangan berupa tekanan atau beban mendadak untuk memicu pembentukan jaringan tulang baru. Salah satu cara yang dinilai efektif adalah melalui gerakan melompat, terutama untuk memperkuat bagian leher tulang paha (femoral neck), yang merupakan area yang paling sering mengalami patah tulang pada lansia.
Namun, dr. Cecep mengingatkan bahwa manfaat latihan ini bersifat spesifik dan tidak memperkuat seluruh tulang secara merata. Menurutnya, tulang belakang tetap memerlukan stimulasi lain, seperti latihan angkat beban (weight training).
"Tulang mau memadat kalau dikasih kejutan, beban dadakan. Lompatan ngasih itu. Tumit mendarat, panggul kaget, naruh kalsium baru. Penelitian nunjukin lompatan paling ngefek di leher tulang paha. Kepadatannya naik sekitar 1,5 sampai 1,8 persen. Kedengarannya kecil, justru itu penting. Titik ini yang paling sering patah saat usia lanjut. Kalau bisa naik sedikit saja, dampaknya sudah sangat berarti," jelasnya.
Untuk memperoleh manfaat tersebut, ia menyarankan melakukan sekitar 50 lompatan sebanyak empat kali dalam seminggu. Latihan dapat dibagi ke dalam beberapa sesi sepanjang hari dan sebaiknya dilakukan tanpa alas kaki di atas permukaan lantai yang cukup keras. Saat mendarat, lutut dianjurkan sedikit ditekuk agar tekanan pada sendi tetap aman.
Menurut dr. Cecep, manfaat latihan ini juga dipengaruhi oleh usia. Pada orang yang lebih muda, peningkatan kepadatan tulang dapat terjadi di lebih banyak area. Sementara pada lansia, efeknya cenderung lebih terfokus pada leher tulang paha.
Bagi perempuan yang telah memasuki masa menopause, ia menyarankan agar latihan lompat dikombinasikan dengan latihan beban sehingga hasilnya lebih optimal.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan kepadatan tulang tidak terjadi secara instan. Hasil latihan umumnya baru mulai terlihat setelah dilakukan secara konsisten selama setidaknya empat bulan.
Meski demikian, dr. Cecep menegaskan bahwa lompat kecil bukan satu-satunya cara menjaga kesehatan tulang. Asupan kalsium, vitamin D, aktivitas fisik harian, serta olahraga rutin tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kepadatan tulang.
Selain itu, latihan ini tidak dianjurkan bagi orang yang telah mengalami osteoporosis, memiliki riwayat patah tulang, mengalami gangguan pada sendi lutut atau panggul, maupun perempuan yang sedang hamil tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
"Yang perlu hati-hati dan sebaiknya konsultasi dulu adalah yang sudah osteoporosis, punya riwayat patah tulang, mengalami masalah pada sendi lutut atau panggul, maupun sedang hamil," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)