JAKARTA – Hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 menunjukkan persoalan kesehatan masyarakat Indonesia semakin kompleks. Pada kelompok remaja, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan tingginya kasus obesitas, hipertensi, hingga depresi. Sementara pada bayi baru lahir, prevalensi penyakit jantung bawaan kritis juga masih menjadi perhatian.
Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari hasil skrining tersebut, Kemenkes memetakan berbagai masalah kesehatan berdasarkan kelompok usia, mulai dari bayi, anak sekolah, hingga remaja.
Berdasarkan data per 28 Juni 2026, penyakit jantung bawaan kritis menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir. Dari sekitar 490 ribu bayi yang menjalani enam jenis skrining, sebanyak 4,3 persen atau sekitar 20.946 bayi terindikasi memiliki kelainan dan memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.
Memasuki usia sekolah dasar (SD), masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi, hipertensi, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.
Sementara itu, pada kelompok siswa sekolah menengah pertama (SMP), kasus karies gigi masih mendominasi. Selain itu, mulai ditemukan gangguan kesehatan mental berupa depresi, disertai risiko tuberkulosis (TBC), hipertensi, dan masalah gizi.
Adapun pada kelompok sekolah menengah atas (SMA), gangguan kesehatan mental dan depresi tercatat semakin meningkat. Kelompok usia ini juga banyak mengalami karies gigi, hipertensi, risiko TBC, serta obesitas.
Secara keseluruhan, karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan dalam program CKG, yakni dialami lebih dari 40 persen peserta. Posisi berikutnya ditempati anemia sebesar 27 persen, peningkatan tekanan darah 21 persen, penumpukan serumen (kotoran telinga) 7 persen, serta obesitas 7 persen.
Temuan tersebut menunjukkan Indonesia kini menghadapi double burden of malnutrition atau beban ganda masalah gizi. Artinya, persoalan gizi tidak lagi hanya didominasi kekurangan gizi, tetapi juga meningkatnya jumlah anak dengan gizi berlebih atau obesitas.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan hasil CKG akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan dan intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran.
"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," ujar Budi dalam siaran pers, dikutip Jumat (17/7/2026).
Menurut Budi, Kemenkes kini tidak hanya berfokus pada deteksi dini melalui CKG, tetapi juga mulai memperkuat layanan pengobatan atau tatalaksana bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
Ia mengungkapkan, sebanyak 35,4 persen peserta CKG 2025 yang terdiagnosis penyakit kronis kembali menjalani pengobatan pada CKG 2026. Dari jumlah tersebut, 46,9 persen pasien hipertensi berhasil mengendalikan tekanan darah hingga mencapai batas normal.
Sementara itu, sekitar 33,1 persen pasien diabetes menjalani pemeriksaan ulang, dan 69,4 persen di antaranya berhasil mengontrol kadar gula darah.
Budi menargetkan sedikitnya 50 persen penyandang penyakit kronis bersedia menjalani pengobatan secara rutin, dengan setengah dari jumlah tersebut mampu mencapai kondisi yang terkendali. Target itu mengacu pada keberhasilan Korea Selatan menerapkan strategi Triple 80 dalam menekan angka kematian akibat penyakit jantung.
"Korea berhasil karena menerapkan pendekatan Triple 80, yaitu 80 persen warga diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen dari yang diobati berhasil mengendalikan penyakitnya. Arah sistem kesehatan itulah yang sedang kita bangun di Indonesia," jelasnya.
Di sisi lain, Budi optimistis jumlah peserta CKG akan terus meningkat. Pemerintah menargetkan 130 juta penduduk Indonesia mengikuti program tersebut hingga akhir 2026, terutama dengan memanfaatkan momentum tahun ajaran baru.
"Tujuan kita bukan sekadar mengumpulkan data siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat, bugar, dan produktif. Cek Kesehatan Gratis merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)