Menurut dr. Benediktus, peluang pasangan tersebut untuk hamil sebenarnya sangat kecil. Hal itu karena sang istri memiliki kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) sekitar 0,1, yang menunjukkan cadangan sel telur sangat rendah.
"Harapannya terasa sangat kecil. Namun hari ini Tuhan menunjukkan bahwa tidak ada doa dan usaha yang sia-sia," ungkapnya.
Ia juga menyoroti kebetulan yang begitu menyentuh. Bayi tersebut lahir pada 2 Juli, merupakan dua bayi kembar, setelah 22 tahun penantian.
"Ketika tangisan pertama kedua bayi terdengar di ruang operasi, hati saya ikut bergetar. Saya menyaksikan sendiri bagaimana penantian panjang berubah menjadi tangisan syukur," tulisnya.
Di akhir unggahan, dr. Benediktus mengucapkan selamat datang kepada kedua bayi tersebut.