MI instan menjadi salah satu makanan praktis yang sering dipilih ketika sedang sibuk, stres, atau tidak memiliki stok makanan di rumah. Rasanya yang gurih dan cara penyajiannya yang mudah membuat makanan ini digemari banyak orang.
Namun, konsumsi mi instan secara berlebihan dapat berdampak pada kesehatan. Apalagi, jika sering ditambah dengan porsi ekstra, saus, atau makanan pendamping yang tinggi garam dan lemak.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Rosandi Himawan, Sp.PD, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone mengatakan bahwa mi instan sebenarnya masih boleh dikonsumsi. Namun, dengan catatan tidak menjadi kebiasaan yang terlalu sering.
Menurutnya, konsumsi mi instan sebaiknya dianggap sebagai makanan sesekali atau cheat meal. Mi instan bukan sebagai pilihan makanan rutin.
“Kalau saya sih sebenarnya bukan yang terlalu ketat. Pasien boleh kalau ingin makan makanan instan, tapi jarang-jarang saja. Kalau saya, biasanya sebulan sekali,” ujar dr. Rosandi dalam acara Morning Zone di YouTube Okezone.
Mi instan umumnya mengandung kadar natrium atau garam yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan garam berlebih dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Selain itu, mi instan cenderung rendah serat dan tidak selalu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh apabila dikonsumsi tanpa tambahan sumber protein dan sayuran. Kebiasaan makan mi instan terlalu sering juga dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang karena tubuh lebih banyak mendapatkan kalori dari karbohidrat dan lemak, tetapi kekurangan vitamin, mineral, serta serat.
Bagi yang tetap ingin menikmati mi instan, dr. Rosandi menyarankan agar frekuensinya dibatasi. Menurutnya, makan mi instan seminggu sekali masih tergolong cukup sering jika dilakukan terus-menerus. Dr. Rosandi juga mengingatkan pentingnya mengimbangi konsumsi makanan tinggi kalori dengan aktivitas fisik.
“Itu kayak cheating day. Jadi kalau seminggu sekali sih menurut saya frekuensinya masih cukup sering,” ujar dr. Rosandi.
“Jadi kalau mau cheating day gitu paling enggak sebulan sekali tapi habis makan yang gitu kayaknya harus kejar olahraganya harus lebih banyak,” tutupnya.
(Djanti Virantika)