Lama-kelamaan, otak jadi ketagihan dengan rangsangan cepat ini. Akibatnya? Kehidupan di dunia nyata yang ritmenya lebih lambat, seperti membaca buku, mengobrol santai dari hati ke hati, atau sekadar menunggu antrean, terasa sangat membosankan dan bikin enggak betah.
Meskipun bukan diagnosis medis secara resmi, kondisi ini punya ciri-ciri yang sangat nyata di kehidupan sehari-hari, antara lain:
Khusus pada anak-anak, kondisi ini sering kali muncul dalam bentuk durasi perhatian yang sangat pendek, sulit mengikuti instruksi yang panjang, lebih impulsif (bertindak tanpa berpikir), sering menunda pekerjaan, dan susah mengatur emosi.
Kabar baiknya, otak manusia itu sangat pintar beradaptasi. Artinya, otak bisa dilatih kembali dan agar bisa fokus dan menikmati momen lagi. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kamu praktikkan:
Suara "ting" dari ponsel adalah godaan terbesar yang memecah konsentrasi. Sebagian besar gawai punya fitur untuk membatasi atau menunda notifikasi. Matikan pemberitahuan dari aplikasi yang tidak mendesak. Dengan begitu, kamu yang memegang kendali atas ponselmu, bukan sebaliknya.