ISTILAH toxic masculinity semakin sering diperbincangkan. Utamanya ketika muncul kasus-kasus kekerasan dalam hubungan, seperti yang baru-baru ini dialami YTR yang disekap dan dianiaya kekasihnya, TH, selama 3 tahun di Bandung.
Namun, tidak sedikit yang masih salah memahami istilah ini dan menganggap bahwa semua sifat maskulin adalah sesuatu yang negatif. Padahal, toxic masculinity bukanlah tentang maskulinitas itu sendiri. Mari mengulas mendalam toxic masculinity.
Psikolog klinis, Irawati Damanik, S.Psi., M.Psi., dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan apa itu toxic masculinity. Menurutnya, toxic masculinity adalah pandangan soal laki-laki yang diminta harus dominan.
Dalam kehidupan sehari-hari, laki-laki memang sering dibentuk dengan karakter sebagai sosok yang mandiri, kuat, bertanggung jawab, dan mampu melindungi orang lain. Nilai-nilai tersebut pada dasarnya merupakan hal yang positif.
Menurut Ira, masalah muncul ketika peran maskulin tersebut dimaknai secara keliru. Seseorang merasa memiliki hak untuk mengatur, membatasi, atau mengendalikan pasangan hanya karena dirinya seorang laki-laki atau memiliki peran sebagai pencari nafkah dalam keluarga.
"Kalau di kita toxic masculinity itu masuknya laki-laki memang harus dominan, tapi kemudian jadi toxic, karena itu dijadikan sebagai alat untuk mengontrol orang lain," ujar Ira.
"Tadinya memang maksudnya kita di-building karakternya untuk menjadi pria yang mandiri, pria yang kuat, pria yang bisa melindungi pasangan, atau adik, atau siapa pun. Tapi kemudian pandangan itu menjadi toxic ketika diartikulasikan menjadi negatif," lanjutnya.
Ira mencontohkan, seseorang yang berkata, "Karena aku laki-laki, aku berhak mengontrol pasanganku," atau "Karena aku yang mencari nafkah, aku berhak melarang dan mengatur hidupmu," menunjukkan pola pikir yang termasuk dalam toxic masculinity.
"Nah, itu yang menjadi toxic masculinity. Peran maskulinnya dijadikan sebagai alat untuk mengontrol dan mengendalikan orang lain, yang mungkin dirasa lebih inferior atau lebih lemah dibandingkan dirinya," jelas Ira.
Menurut Irawati, maskulinitas yang sehat justru tidak diukur dari seberapa besar seseorang mampu mendominasi orang lain. Sebaliknya, maskulinitas yang sehat tercermin dari kemampuan menghargai pasangan, mengendalikan emosi, bertanggung jawab, serta membangun hubungan yang setara dan saling menghormati.
Memahami konsep toxic masculinity menjadi penting agar masyarakat tidak keliru memaknai peran laki-laki. Dengan memahami batas antara kepemimpinan yang sehat dan perilaku yang mengontrol, diharapkan hubungan dalam keluarga maupun lingkungan sosial dapat terjalin dengan lebih aman, setara, dan bebas dari kekerasan.
(Djanti Virantika)