Meskipun istilah medisnya telah diperbarui menjadi PMOS, para perempuan diimbau untuk tidak panik. dr. Gezta menegaskan bahwa hingga saat ini, langkah diagnosis maupun penanganan medis klinis yang diterapkan oleh para dokter spesialis kandungan belum mengalami perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan metode penanganan PCOS sebelumnya.
Bagi para perempuan yang ingin mendeteksi dini kondisi ini, ia membagikan kriteria baku yang digunakan dunia medis untuk menetapkan diagnosis PMOS. Seseorang dapat dinyatakan mengalami PMOS apabila memenuhi minimal dua dari tiga kriteria klinis utama.
Pertama adalah terjadinya masalah siklus menstruasi yang tidak teratur khususnya oligomenore, di mana seseorang mengalami keterlambatan atau absen haid selama tiga siklus terakhir secara berturut-turut. Sementara, kriteria kedua dan ketiga berkaitan erat dengan tanda-tanda tingginya hormon maskulin atau hormon androgen (hiperandrogenisme) dalam tubuh perempuan.
"Tapi secara diagnosis dan penanganan sejauh ini masih belum memiliki perbedaan yang signifikan. Jadi apabila mengalami haid yang tidak teratur selama tiga siklus terakhir atau oligomenore, ditambah dengan adanya tanda-tanda atau gejala yang mengarah ke tingginya hormon androgen ya atau hiperandrogenisme, baik secara klinis maupun secara laboratoris, dua dari tiga kriteria ini sudah cukup untuk mendiagnosis adanya suatu PMOS atau yang dulu disingkat sebagai PCOS," kata dr. Gezta.
(Agustina Wulandari )