6 Cara Sembuhkan Mental Korban Kekerasan

Djanti Virantika, Jurnalis
Jum'at 26 Juni 2026 19:05 WIB
Kekerasan pada perempuan. (Foto: Freepik)
Share :

KASUS penganiayaan yang dilakukan TH terhadap YTR selama 3 tahun di Bandung menyita perhatian publik. Peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga berpotensi meninggalkan trauma psikologis yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.

Banyak orang mengira bahwa proses penyembuhan selesai ketika korban keluar dari rumah sakit. Padahal, bagi penyintas kekerasan, pemulihan mental sering kali menjadi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan penyembuhan luka fisik.

Lalu, bagaimana proses penyembuhan mental setelah menjadi korban kekerasan? Okezone akan mengulasnya dalam artikel ini.

Dilansir dari Connection for Abused Women and Their Children, berikut 6 cara sembuh secara mental usai jadi korban kekerasan:

1. Menerima bahwa trauma adalah respons yang wajar

Perasaan takut, cemas, sedih, atau marah setelah mengalami kekerasan merupakan respons yang umum terjadi. Korban tidak perlu memaksakan diri untuk segera merasa baik-baik saja. Setiap orang memiliki waktu pemulihan yang berbeda.

2. Mendapatkan bantuan profesional

Pendampingan dari psikolog atau psikiater sangat dianjurkan, terutama jika trauma mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Terapi dapat membantu korban memahami emosinya, mengurangi kecemasan, serta membangun kembali rasa aman.

3. Memiliki lingkungan yang mendukung

Dukungan dari keluarga, sahabat, atau komunitas memiliki peran besar dalam proses pemulihan. Kehadiran orang-orang yang mau mendengar tanpa menghakimi dapat membantu korban merasa lebih aman dan tidak sendirian.

 

4. Merawat kesehatan fisik

Kesehatan mental dan fisik saling berkaitan. Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta berolahraga secara rutin dapat membantu tubuh mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati.

5. Menemukan cara sehat untuk mengelola emosi

Menulis jurnal, bermeditasi, beribadah, melukis, mendengarkan musik, atau melakukan hobi dapat menjadi cara untuk mengekspresikan perasaan. Sebaliknya, penggunaan alkohol atau narkoba sebagai pelarian justru dapat memperburuk kondisi psikologis.

6. Tidak terburu-buru pulih

Pemulihan trauma bukanlah proses yang lurus. Ada kalanya korban merasa sudah membaik, namun kembali teringat pengalaman buruk yang dialami. Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses penyembuhan dan bukan berarti mengalami kegagalan.

Dengan pendampingan profesional, dukungan dari orang-orang terdekat, serta lingkungan yang aman, penyintas kekerasan memiliki peluang untuk memulihkan kesehatan mentalnya dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik. Proses tersebut memang membutuhkan waktu, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya