JAKARTA - Setiap orang memiliki tingkat gairah seks yang berbeda-beda. Ada yang jarang memikirkan hubungan intim, sementara ada pula yang merasa hasrat seksualnya muncul lebih sering dibandingkan orang lain. Kondisi ini sebenarnya tidak selalu menandakan adanya masalah.
Menurut pakar kesehatan seksual wanita, Dr. Sherry Ross, tidak ada standar pasti mengenai libido yang dianggap normal. Setiap individu memiliki dorongan seksual yang unik dan dapat berubah sepanjang hidupnya.
“Libido tinggi bagi seseorang belum tentu dianggap tinggi bagi orang lain. Yang terpenting adalah memahami apa yang normal untuk diri sendiri,” jelas Ross dilansir dari Prevention.
Senada dengan itu, peneliti dari Kinsey Institute, Justin Lehmiller, mengatakan bahwa gairah seks memang cenderung naik dan turun tergantung kondisi fisik, psikologis, maupun lingkungan sosial seseorang.
1. Perubahan Hormon
Hormon menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi libido. Pada wanita, gairah seksual biasanya meningkat saat masa ovulasi karena perubahan kadar estrogen dan hormon reproduksi lainnya.
Sementara pada pria, kadar testosteron memiliki peran besar dalam menentukan tingkat hasrat seksual. Semakin tinggi kadar hormon tersebut, umumnya dorongan seksual juga meningkat.
2. Siklus Menstruasi
Beberapa wanita melaporkan mengalami peningkatan gairah seks menjelang atau selama menstruasi. Fluktuasi hormon yang terjadi selama siklus bulanan dapat membuat sensitivitas tubuh meningkat.
3. Kehamilan
Kehamilan juga dapat memengaruhi libido. Perubahan hormon serta meningkatnya aliran darah ke area reproduksi membuat sebagian wanita merasakan gairah seksual yang lebih tinggi dibandingkan biasanya.
4. Rutin Berolahraga
Aktivitas fisik ternyata tidak hanya baik untuk kesehatan tubuh, tetapi juga dapat meningkatkan hasrat seksual. Olahraga membantu tubuh melepaskan hormon endorfin yang berperan menciptakan perasaan bahagia dan meningkatkan energi.
Sejumlah penelitian bahkan menemukan bahwa individu yang aktif berolahraga cenderung memiliki tingkat gairah seksual yang lebih tinggi.
5. Kondisi Psikologis
Stres, kecemasan, maupun perubahan suasana hati dapat memengaruhi libido seseorang. Menariknya, respons setiap orang berbeda-beda.
“Sebagian orang mengalami penurunan hasrat seksual saat stres, sementara yang lain justru mengalami peningkatan dorongan seksual,” kata Lehmiller.
6. Sedang Jatuh Cinta
Memasuki hubungan baru sering kali membuat seseorang merasa lebih bergairah. Fase yang dikenal sebagai honeymoon phase ini biasanya ditandai dengan meningkatnya ketertarikan fisik dan emosional terhadap pasangan.
7. Pola Makan
Beberapa jenis makanan dipercaya dapat membantu meningkatkan libido. Dr. Ross menyebut makanan seperti stroberi, alpukat, tiram, cokelat hitam, semangka, hingga cabai mengandung nutrisi yang dapat mendukung kesehatan seksual.
Meski demikian, pola makan sehat secara keseluruhan tetap menjadi faktor terpenting untuk menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan tubuh.
8. Masturbasi
Aktivitas seksual mandiri juga dapat memengaruhi tingkat libido. Menurut Ross, orgasme yang diperoleh melalui masturbasi dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, serta meningkatkan rasa percaya diri yang pada akhirnya berdampak pada gairah seksual.
9. Konsumsi Alkohol
Dalam jumlah tertentu, alkohol dapat membuat seseorang lebih rileks dan percaya diri sehingga meningkatkan keinginan untuk berhubungan intim. Namun konsumsi berlebihan justru berisiko menurunkan fungsi seksual dan menyulitkan seseorang mencapai orgasme.
Memiliki libido tinggi bukan berarti seseorang mengalami gangguan. Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian jika mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, pekerjaan, hubungan dengan pasangan, atau memicu perilaku seksual yang sulit dikendalikan.
Psikolog klinis Karen Stewart menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat mengarah pada hiperseksualitas apabila pikiran dan dorongan seksual menjadi obsesi yang mengganggu fungsi hidup seseorang.
Beberapa tandanya antara lain menghabiskan waktu berlebihan untuk aktivitas seksual, konsumsi pornografi secara kompulsif, masturbasi berlebihan, hingga terlibat dalam perilaku seksual berisiko.
Jika dorongan seksual terasa mengganggu, para ahli menyarankan untuk mencari akar masalah terlebih dahulu. Dalam banyak kasus, yang menjadi persoalan bukan libido itu sendiri, melainkan rasa malu, tekanan sosial, atau dampak negatif yang ditimbulkan.
Terapi seks, konseling psikologis, memperbanyak aktivitas positif, menjaga komunikasi dengan pasangan, serta mengelola stres dapat menjadi langkah yang membantu.
Pada akhirnya, tingkat gairah seks setiap orang berbeda. Selama tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan pribadi maupun sosial, libido tinggi bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)