Ia juga mengingatkan risiko keracunan asam jengkolat apabila jengkol dikonsumsi secara berlebihan. Dalam kondisi tertentu, zat tersebut dapat membentuk kristal yang menyumbat saluran kemih dan meningkatkan risiko acute kidney injury atau cedera ginjal akut.
Menariknya, tidak semua orang mengalami tingkat bau badan yang sama setelah mengonsumsi bawang atau jengkol. Perbedaan ini dipengaruhi oleh aktivitas enzim flavin-containing monooxygenase (FMO3) di hati yang berperan dalam memecah senyawa sulfur.
"Kalau fungsi hati berjalan optimal, biasanya bau akan lebih cepat hilang. Selain itu, kondisi mikrobioma kulit juga berpengaruh. Jika kebersihan kulit kurang terjaga, jumlah bakteri akan lebih banyak sehingga aroma yang muncul bisa menjadi lebih kuat," jelasnya.
Karena itu, munculnya bau badan setelah mengonsumsi bawang atau jengkol bukan berarti seseorang tidak menjaga kebersihan diri. Kondisi tersebut merupakan bagian dari mekanisme biologis alami tubuh. Meski demikian, menjaga kebersihan kulit dan mengatur pola makan tetap penting untuk membantu mengurangi aroma yang ditimbulkan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)