Apakah Diet Harus Stop Gula?

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Kamis 28 Mei 2026 12:06 WIB
Apakah Diet Harus Stop Gula? (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Tren diet yang menghindari gula dan karbohidrat secara total belakangan ramai dibahas di media sosial. Namun, perawat sekaligus kreator konten kesehatan di X, Rizal melalui akun @afrkml menegaskan bahwa tubuh tetap membutuhkan gula dan karbohidrat, terutama bagi orang dengan aktivitas fisik tinggi.

Menurut Rizal, gula dan karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Karena itu, menghentikan konsumsi keduanya secara ekstrem justru dinilai kurang tepat.

“Tubuh kita masih butuh gula, apalagi kalau aktivitas fisik tinggi,” tulisnya dalam unggahan di X.

Ia menjelaskan, kenaikan atau penurunan berat badan pada dasarnya lebih dipengaruhi oleh keseimbangan kalori harian, bukan hanya dari satu jenis makanan tertentu.

“Yang bikin berat badan naik atau turun itu surplus atau defisit kalori, bukan semata jenis makronutriennya,” lanjut Rizal.

Pola Diet Sehat

Menurutnya, pola diet yang lebih realistis adalah menjaga defisit kalori secara konsisten, memperbanyak asupan protein, serta rutin berolahraga atau melakukan latihan beban.

Rizal juga menyebut tubuh masih memiliki batas aman konsumsi gula tambahan harian. Selama asupan gula tambahan tidak berlebihan dan total kalori tetap terkontrol, berat badan tetap bisa turun.

“Kalau kalori harian masih defisit, berat badan tetap bisa turun meski makan donat atau minum matcha,” tulisnya.

Selain gula, Rizal turut menyoroti tren diet rendah karbohidrat yang dilakukan secara berlebihan. Ia menilai banyak orang memangkas karbohidrat tanpa memahami peran pentingnya bagi tubuh.

Karbohidrat nantinya akan dipecah menjadi glukosa sebagai sumber energi, lalu disimpan dalam bentuk glikogen yang dibutuhkan tubuh, khususnya bagi mereka yang rutin olahraga, gym, cardio, maupun memiliki pekerjaan dengan aktivitas fisik tinggi.

Jika asupan karbohidrat dipotong terlalu ekstrem, tubuh justru lebih mudah lemas dan memicu rasa lapar berlebihan atau craving. Kondisi tersebut dapat membuat program diet sulit dijalankan dalam jangka panjang.

Selain itu, pola diet yang terlalu ketat juga berisiko memicu yo-yo effect, yaitu kondisi ketika berat badan turun drastis lalu kembali naik karena pola makan sulit dipertahankan.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya