“Kalau kalori harian masih defisit, berat badan tetap bisa turun meski makan donat atau minum matcha,” tulisnya.
Selain gula, Rizal turut menyoroti tren diet rendah karbohidrat yang dilakukan secara berlebihan. Ia menilai banyak orang memangkas karbohidrat tanpa memahami peran pentingnya bagi tubuh.
Karbohidrat nantinya akan dipecah menjadi glukosa sebagai sumber energi, lalu disimpan dalam bentuk glikogen yang dibutuhkan tubuh, khususnya bagi mereka yang rutin olahraga, gym, cardio, maupun memiliki pekerjaan dengan aktivitas fisik tinggi.
Jika asupan karbohidrat dipotong terlalu ekstrem, tubuh justru lebih mudah lemas dan memicu rasa lapar berlebihan atau craving. Kondisi tersebut dapat membuat program diet sulit dijalankan dalam jangka panjang.
Selain itu, pola diet yang terlalu ketat juga berisiko memicu yo-yo effect, yaitu kondisi ketika berat badan turun drastis lalu kembali naik karena pola makan sulit dipertahankan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)