Alasan WHO Tetapkan Virus Ebola sebagai Darurat Kesehatan Global, Ini Cara Penularannya

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Kamis 21 Mei 2026 18:05 WIB
Virus ebola sudah ditetapkan WHO sebagai darurat kesehatan global. (Foto: Freepik)
Share :

WORLD Health Organization (WHO) menetapkan virus ebola sebagai darurat kesehatan global. Alasan WHO menetapkan status tersebut pun terungkap.

Menarik kini menilik serba-serbi soal WHO. Selain soal alasan penetapan status darurat kesehatan global, cara penularan virus ini juga penting diketahui agar bisa menghindarinya.

1. Alasan WHO Tetapkan Ebola Darurat Kesehatan Global

Setelah ramai isu soal hantavirus di Indonesia, kini wabah virus baru yaitu Ebola juga ramai diperbincangakan. Dokter spesialis mikrobiologi klinik, dr. Ayman Alatas pun mencoba menjelaskan soal virus ini melalui cuitannya di X.

Lewat unggahan di akun X pribadinya, dr. Ayman menjelaskan bahwa WHO baru saja menetapkan wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo dan Uganda sebagai “public health emergency of international concern” atau darurat kesehatan global.

“Apa itu Bundibugyo? Strain Ebola yang jarang dan sudah jadi darurat kesehatan global,” tulis dr. Ayman membuka utasnya.

Berbeda dengan wabah Ebola sebelumnya yang banyak didominasi strain Zaire, kali ini penyebaran disebabkan oleh strain Bundibugyo. Bundibugyo termasuk salah satu virus orthoebola penyebab penyakit Ebola.

Menurut dr. Ayman, Ebola adalah penyakit dengan tingkat fatalitas tinggi yang menyebar melalui berbagai cara. Seperti kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, material yang terkontaminasi, hingga jenazah pasien yang meninggal akibat penyakit tersebut.

“Gejala awal meliputi demam, nyeri tubuh, kelemahan, dan muntah, yang dalam beberapa kasus diikuti dengan perdarahan,” tulisnya.

Sementara itu, tingkat kematian strain Bundibugyo ini diperkirakan mencapai 30-40 persen. Hingga kini, pengobatan yang tersedia masih sebatas perawatan suportif.

Dokter Ayman pun menjelaskan bahwa wabah kali ini adalah outbreak Bundibugyo terbesar yang pernah terdokumentasi. Tercatat, sudah ada 246 kasus suspek dan 80 kematian.

Kondisi ini menunjukkan virus diduga telah menyebar selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum akhirnya terdeteksi secara resmi. Dokter Ayman pun mengimbau beberapa upaya pencegahan seperti protokol keselamatan hingga pelacakan kontak.

“Pencegahan melalui protokol keselamatan, surveilans ketat, pelacakan kontak, dan engagement komunitas menjadi strategi kontrol utama dalam mengatasi situasi yang kompleks ini,” jelasnya.

 

3. Virus Ebola di Indonesia

Hal ini juga sejalan dengan komitmen Kementerian Kesehatan yang beberapa waktu lalu menegaskan tidak ditemukan virus Ebola di Indonesia. Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes juga melakukan berbagai pencegahan.

Salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan penyiagaan petugas kesehatan di lapangan. Lalu, memperkuat skrining pelaku perjalanan, menyiapkan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola.

Seluruh laporan dari pintu masuk negara juga akan dipantau selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operation Center (PHEOC). Selain itu, kapasitas laboratorium nasional disebut juga disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya