dr. Nina pun menjelaskan bahwa angka katarak di Indonesia cukup tinggi. Hal itu karena wilayah khatulistiwa Indonesia dengan paparan sinar matahari yang besar.
Bahkan, banyak juga masyarakat yang usianya di bawah 50 tahun dan mengalami katarak. Menurut dr. Nina, selain faktor usia dan sinar matahari, diabetes hingga riwayat benturan pada mata juga bisa mempercepat munculnya katarak.
Namun sayangnya, banyak pasien katarak yang masing takut untuk dioperasi. Padahal penundaan justru bisa membuat kondisi semakin berat dan berisiko.
“Yang sangat disayangkan ternyata banyak yang takut dioperasi. Takut tidak dioperasi sampai tiga tahun, lima tahun baru datang. Ketika sudah sangat berat, itu menjadi tanggung jawab yang lebih berat lagi buat kami,” jelas dr. Nina.
dr. Nina mengibaratkan seperti pasien diabetes yang baru berobat setelah mengalami komplikasi. Menurutnya, operasi yang terlambat bisa membuat aktivitas sehari-hari terganggu, mulai dari menyetir, membaca, hingga berjalan sendiri.
“Kalau kita baru operasi setelah gejalanya muncul lima tahun, artinya kita membuang lima tahun. Harusnya lima tahun itu kita bisa lebih produktif dan tidak ketergantungan orang lain,” lanjutnya.
dr. Nina pun menjelaskan bahwa teknologi operasi katarak saat ini sudah semakin berkembang. Jika dulunya operasi dilakukan secara manual dengan luka besar dan jahitan, saat ini prosedur modern sudah menggunakan teknologi fakoemulsifikasi hingga laser-assisted.
Hasilnya, luka sangat kecil dan pemulihannya juga lebih cepat. Selain mengangkat katarak, operasi juga bisa sekaligus memberi lensa tanam jika pasien memiliki minus atau silinder pada mata.
(Djanti Virantika)