JAKARTA - Banyak perempuan masih menganggap latihan angkat beban hanya penting untuk membentuk otot atau identik dengan olahraga laki-laki. Padahal, latihan beban justru sangat dianjurkan bagi perempuan karena dapat membantu menjaga kepadatan tulang dan menurunkan risiko osteoporosis sejak dini.
Hal itu dijelaskan oleh perawat sekaligus kreator edukasi kesehatan di media sosial X @afrkml. Menurut Rizal, perempuan justru lebih membutuhkan latihan beban, terutama setelah menopause.
“Terutama buat cewek-cewek nih, kalian tuh yang paling butuh angkat beban dibanding cowo-cowo sebenarnya karena risiko osteoporosis tuh tingginya ada pada wanita,” tulis Rizal dalam utasnya.
Ia menjelaskan bahwa latihan beban dapat merangsang proses pembentukan tulang dan membantu menjaga kepadatan tulang agar tidak mudah keropos. Ia juga menjelaskan bahwa tulang manusia sebenarnya aktif melakukan regenerasi setiap hari.
Dalam proses tersebut terdapat sel yang bertugas mengikis jaringan tulang lama, yakni osteoklas, dan sel pembentuk jaringan tulang baru yang disebut osteoblas. Sel ini akan bekerja secara maksimal ketika seseorang berada di bawah usia 30 tahun.
“Aktivitas ini gacor-gacornya terjadi ketika usia kita di bawah 30 tahun. Setelah itu, proses pembentukan tulang pelan-pelan mulai kalah dibanding proses pengikisannya,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai penting untuk memiliki “tabungan tulang” yang baik sejak muda. Jika tubuh jarang mendapatkan tekanan seperti olahraga beban, tubuh akan menganggap tulang kuat tidak terlalu dibutuhkan sehingga kepadatan tulang perlahan menurun.
“Nah masalahnya, kalau badan jarang dapat beban mekanis alias jarang dipakai buat angkat-angkat beban, tubuh bisa nganggep ‘oh yaudah, kayaknya pemilik badan nggak butuh amat tulang kuat’,” tulisnya.
Berbeda jika seseorang rutin melakukan resistance training seperti squat, deadlift, push-up, atau mengangkat dumbbell, otot akan menarik tulang dan memberikan sinyal mekanis agar tulang beradaptasi menjadi lebih kuat. Hasilnya, tulang menjadi lebih padat dan risiko osteoporosis menurun.
“Kalau terus dilakukan, tulang jadi makin padat dan risiko osteoporosis menurun,” lanjutnya.
Selain itu, Rizal juga menjelaskan bahwa perempuan setelah menopause mengalami penurunan hormon estrogen secara drastis. Padahal, estrogen memiliki peran penting dalam menjaga kepadatan tulang.
Itulah sebabnya perempuan memang jauh lebih berisiko mengalami osteoporosis dibanding laki-laki.
“Makanya osteoporosis pada wanita memang jauh lebih besar risikonya dibanding cowok,” katanya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)