Lebih lanjut, Dr Dicky menjelaskan bahwa Hantavirus secara alami hidup pada hewan pengerat tertentu, terutama tikus. Menariknya, tikus pembawa virus biasanya tidak menunjukkan gejala sakit. Namun, virus bisa menular ketika manusia melakukan kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Penularan paling sering terjadi saat seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi kotoran tikus, misalnya ketika membersihkan gudang, loteng, atau area kotor yang menjadi sarang tikus tanpa menggunakan pelindung. Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan hewan pengerat.
Para ahli menyebut sekitar 75 persen penyakit infeksi baru pada manusia memang berasal dari hewan. Hal ini terjadi karena manusia dan hewan kini hidup semakin berdampingan, termasuk di lingkungan rumah.
“Jadi 75 persen penyakit baru dan infeksi manusia memang berasal dari hewan yang seharusnya tidak ada di manusia,” ujar Dr Dicky.
“Kenapa bisa pindah penyakit hewan ke manusia? Karena manusia sendiri dan hewan ini hidupnya sudah berdampingan. Bahkan di satu rumah, mungkin di atasnya manusia, di bawahnya di kolong-kolongnya bisa ada tikus,” lanjutnya.
“Nah inilah Hantavirus, jadi dia hidup alami normal pada tikus-tikus tertentu. Jadi tikusnya tidak sakit, tapi ketika dia kontak dengan manusia, dari hewan pengerat ke manusia, nah utamanya kontak dengan feses atau air liur dari tikus, maka terjadi penularan dari hewan ke manusia. Jadi ini sekali lagi virus yang sebenarnya bukan penyakit atau virus baru,” jelasnya.
Meski bukan virus baru, Hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan serius seperti demam tinggi, gangguan pernapasan, hingga gangguan ginjal pada beberapa kasus tertentu. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
(Djanti Virantika)