JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabarkan telah menjalani pengobaran kanker prostat yang dideritanya. Dikabarkan Netanyahu telah melakukan rangkaian perawatan yang sudah menghilangkan kanker tersebut dalam tubuhnya.
Kanker prostat sendiri termasuk salah satu jenis kanker yang paling umum dialami pria di dunia, namun sering kali tidak disadari karena perkembangannya cenderung lambat dan minim gejala pada tahap awal. Situasi ini membuat banyak kasus baru terdeteksi ketika penyakit sudah memasuki stadium yang lebih lanjut.
Kanker prostat adalah kondisi ketika sel-sel di kelenjar prostat tumbuh secara tidak normal dan tidak terkendali. Prostat sendiri merupakan kelenjar kecil yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, dengan fungsi utama menghasilkan cairan yang menjadi bagian dari semen. Karena letaknya yang strategis dalam sistem reproduksi dan saluran kemih pria, gangguan pada prostat dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya.
Pada tahap awal, kanker prostat sering kali tidak menimbulkan keluhan yang berarti. Banyak pria bahkan tidak menyadari adanya masalah hingga kanker berkembang lebih jauh.
Namun, seiring waktu, gejala mulai muncul, terutama yang berkaitan dengan fungsi saluran kemih. Penderita bisa mengalami kesulitan saat buang air kecil, aliran urin yang melemah atau terputus-putus, serta frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama pada malam hari.
Dalam beberapa kasus, muncul rasa nyeri saat buang air kecil atau saat ejakulasi, bahkan dapat ditemukan darah dalam urin atau sperma. Ketika kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain, keluhan bisa menjadi lebih berat, seperti nyeri tulang, kelelahan berkepanjangan, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Risiko kanker prostat meningkat seiring bertambahnya usia, khususnya setelah usia 50 tahun. Selain faktor usia, riwayat keluarga juga berperan penting. Pria yang memiliki ayah atau saudara laki-laki dengan riwayat kanker prostat cenderung memiliki risiko lebih tinggi.
Pola makan yang tinggi lemak hewani serta gaya hidup yang kurang aktif juga diduga berkontribusi terhadap peningkatan risiko. Oleh karena itu, faktor genetik dan kebiasaan sehari-hari sama-sama berpengaruh dalam perkembangan penyakit ini.
Deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan kanker prostat. Pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu menemukan tanda-tanda awal sebelum kanker berkembang lebih jauh. Salah satu metode yang umum digunakan adalah tes PSA atau Prostate-Specific Antigen, yaitu pemeriksaan darah untuk mengukur kadar protein yang diproduksi oleh prostat.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan colok dubur untuk menilai kondisi prostat secara langsung. Jika ditemukan indikasi mencurigakan, langkah lanjutan seperti biopsi diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Dalam hal pengobatan, pendekatan yang dilakukan sangat bergantung pada stadium kanker, usia pasien, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan. Pada kasus yang masih terbatas di prostat, operasi pengangkatan kelenjar prostat atau radioterapi sering menjadi pilihan utama. Sementara itu, terapi hormon digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kanker dengan cara mengurangi kadar hormon testosteron yang memicu perkembangan kanker.
Pada stadium lanjut, kemoterapi dapat menjadi bagian dari penanganan untuk mengendalikan penyebaran penyakit. Menariknya, tidak semua kasus kanker prostat memerlukan tindakan agresif. Pada beberapa kondisi dengan pertumbuhan kanker yang sangat lambat, dokter dapat menyarankan pemantauan aktif atau active surveillance, yaitu memantau perkembangan kanker secara berkala tanpa intervensi langsung.
Kasus yang dikaitkan dengan Benjamin Netanyahu menunjukkan bahwa kanker prostat dapat terjadi pada siapa saja, tanpa memandang latar belakang atau jabatan. Hal ini sekaligus menegaskan pentingnya kesadaran akan kesehatan, terutama bagi pria yang telah memasuki usia berisiko.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)