JAKARTA – Di tengah optimisme bonus demografi, Indonesia menghadapi ancaman yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir pada usia produktif. Fenomena ini dikenal sebagai silent cognitive crisis, yaitu penurunan fungsi kognitif yang terjadi perlahan dan tidak selalu terdiagnosis sebagai penyakit.
Isu ini mengemuka dalam Rapat Kerja Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI), ketika Koeshartanto Koeswiranto, Presiden Komisaris Indonesia Cahaya Cendekiawan (ICC), mengajak para neurolog untuk melihat peran mereka secara lebih strategis.
Menurut Koeshartanto, yang terjadi saat ini bukan sekadar meningkatnya penyakit saraf, tetapi penurunan kualitas fungsi berpikir yang berlangsung diam-diam.
“Yang kita hadapi bukan hanya penyakit yang terlihat, tetapi penurunan kapasitas berpikir yang terjadi secara diam-diam,” ujarnya.
Tekanan hidup modern, beban kerja tinggi, serta disrupsi digital dinilai mempercepat penurunan fokus, perhatian, dan kualitas pengambilan keputusan.