JAKARTA — Bagi sebagian orang, makan adalah aktivitas yang menyenangkan. Namun bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan maag kronis, momen ini justru bisa memicu rasa cemas. Kekhawatiran akan nyeri ulu hati, sesak napas, hingga rasa tidak nyaman setelah makan kerap membuat penderita takut untuk makan.
Kondisi ini menunjukkan adanya hubungan erat antara gangguan pencernaan dan kesehatan mental. Dalam sebuah diskusi kesehatan, para ahli membahas fenomena tersebut sebagai “lingkaran setan” antara GERD dan kecemasan.
Praktisi kesehatan Dera Nur Tresna mengungkapkan, pengalaman pribadi merawat anggota keluarga dengan GERD memperlihatkan bahwa pendekatan yang terlalu membatasi makanan justru dapat memicu stres. Pola makan yang terlalu hambar dinilai berpotensi menurunkan nafsu makan dan memperburuk kondisi psikologis pasien.
Dari sisi medis, dr. Ratri Saumi menjelaskan bahwa GERD terjadi karena gangguan pada katup esofagus yang menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan. Ia menegaskan bahwa asam lambung sebenarnya memiliki fungsi penting dalam proses pencernaan, namun menjadi masalah ketika berada di tempat yang tidak semestinya.
"Asam lambung itu penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika ia 'muncrat' ke tempat yang salah," jelasnya.
Ketika lambung mengalami iritasi, tubuh mengirimkan sinyal ke otak melalui mekanisme Gut-Brain Axis.
Psikolog klinis Mutia Qoriana menjelaskan bahwa respons ini dapat memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol, yang kemudian memperburuk produksi asam lambung. Akibatnya, muncul kecemasan berlebih, bahkan rasa takut yang intens seperti thanatophobia atau ketakutan akan kematian.