Suasana Madinah di Tengah Jakarta, Intip Pesona Payung Raksasa di Masjid Assahara

Niko Prayoga , Jurnalis
Jum'at 06 Maret 2026 16:10 WIB
Suasana Madinah di Tengah Jakarta, Intip Pesona Payung Raksasa di Masjid Assahara (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Sekilas, pemandangan payung besar dengan hiasan ornamen khas Islami di pelataran masjid memang tampak seperti Masjid Nabawi di Madinah. Namun, siapa sangka kemegahan tersebut ternyata hadir di Masjid Assahara yang terletak di kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Enam payung besar dengan ornamen yang indah dan hiasan lampu berwarna emas itu berdiri kokoh sehingga membuat para jamaah masjid yang berkunjung merasa takjub. Bukan tanpa alasan, para jamaah merasa sedang dibawa ke dalam suasana di Masjid Nabawi dengan adanya payung tersebut. Apalagi saat menjelang malam, semburat lampu berpadu dengan cahaya senja menambah keindahan payung besar tersebut.

Seperti yang dirasakan oleh Harlan, jamaah yang terbiasa melaksanakan ibadah shalat di Masjid Assahara. Ia menyebut ketika melihat payung dibuka, dirinya langsung teringat suasana di Madinah.

“Dengan adanya payung di Masjid As-Sahara seperti di Madinah, terlihat jadi bagus masjidnya. Ini mengobati rasa rindu kita akan Madinah, terlihat seperti di Madinah,” kata Harlan saat diwawancarai di Masjid Assahara.

Tidak hanya itu, ia menilai kehadiran payung tersebut bukan hanya sebagai hiasan atau daya tarik bagi jamaah, tetapi juga memiliki fungsi sebagai peneduh bagi jamaah yang tidak mendapat tempat di dalam masjid saat momen-momen tertentu seperti hari besar Islam atau ibadah shalat Jumat.

“Dulu kan tidak ada payung, jamaah kalau membludak sampai di halaman masjid ini kepanasan. Dengan adanya payung sekarang jamaah bisa lebih terfasilitasi sehingga tidak kepanasan ataupun kehujanan,” ucapnya.

Ia mengaku sebelum adanya payung tersebut para jamaah sering merasa kepanasan saat berada di pelataran masjid.

“Ya, saya sendiri pernah saat masjid penuh dan harus berada di selasar masjid ini. Saat belum ada payung memang panas, sekarang dengan adanya payung seperti ini menjadi lebih teduh dan lebih adem,” tuturnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan payung tersebut juga membantu meningkatkan kekhusyukan ibadah para jamaah yang harus berada di pelataran masjid karena tidak mendapat tempat di dalam.

“Iya, dengan adanya payung juga menambah kekhusyukan jamaah. Saat duduk di bawah payung jadi lebih khusyuk karena tidak kepanasan, lebih adem,” ungkap Harlan.

Inspirasi dari Masjid Nabawi

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Masjid Assahara, Tajudin Roni menuturkan bahwa hadirnya payung besar di pelataran masjid tersebut memang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah. Hal tersebut juga selaras dengan tujuan pengurus masjid dan Pemerintah Kota Jakarta Barat yang ingin menghadirkan desain masjid yang berbeda dari masjid pemerintah kota lainnya.

“Kami terinspirasi dari Masjid Nabawi. Kami berpikir tidak ada salahnya meniru yang baik. Karena belum ada di antara setiap kantor wali kota yang memiliki masjid seperti ini. Jadi kami ingin mempunyai nilai lebih sehingga nanti bisa menjadi perbandingan dengan masjid lain,” tutur Roni.

Dengan adanya payung besar layaknya di Masjid Nabawi tersebut, Masjid Assahara diharapkan dapat memberikan kenyamanan ekstra bagi jamaah sekaligus menjadi ikon kebanggaan baru meski berada di tengah keterbatasan lahan.

“Kenapa kami demikian? Karena kami menginginkan Masjid Assahara ini nanti banyak dikunjungi masyarakat dan banyak juga jamaah yang ingin beribadah,” tambahnya.

Meski demikian, keindahan tersebut tidak bisa dinikmati jamaah setiap hari. Pengurus masjid telah menentukan jadwal khusus untuk membuka payung tersebut. Roni menjelaskan payung akan dibuka secara rutin setiap hari Jumat untuk pelaksanaan shalat Jumat.

“Kami tadinya hampir setiap hari membuka payung, tapi sekarang dibatasi hanya hari Jumat saja supaya jamaah bisa shalat di bawah payung dan menikmati keindahannya,” jelas Roni.

Selain hari Jumat, payung hanya dibuka saat perayaan hari besar Islam atau acara tertentu yang membutuhkan fungsi payung tersebut.

“Apabila ada kegiatan dari wali kota atau jajaran pemerintah kota, biasanya sesuai permintaan mereka kami buka,” sambungnya.

Keputusan tersebut diambil karena payung berisiko rusak jika terkena angin kencang atau hujan lebat. Demi keamanan jamaah dan menjaga kondisi payung, pengurus memutuskan untuk tidak membukanya setiap hari.

“Alasannya karena risikonya cukup tinggi. Kalau angin kencang takutnya terbawa angin. Pernah dulu kita buka setiap hari, tapi saat angin kencang apalagi disertai hujan jadi berbahaya,” pungkasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya