“Dulu kan tidak ada payung, jamaah kalau membludak sampai di halaman masjid ini kepanasan. Dengan adanya payung sekarang jamaah bisa lebih terfasilitasi sehingga tidak kepanasan ataupun kehujanan,” ucapnya.
Ia mengaku sebelum adanya payung tersebut para jamaah sering merasa kepanasan saat berada di pelataran masjid.
“Ya, saya sendiri pernah saat masjid penuh dan harus berada di selasar masjid ini. Saat belum ada payung memang panas, sekarang dengan adanya payung seperti ini menjadi lebih teduh dan lebih adem,” tuturnya.
Di sisi lain, ia mengungkapkan payung tersebut juga membantu meningkatkan kekhusyukan ibadah para jamaah yang harus berada di pelataran masjid karena tidak mendapat tempat di dalam.
“Iya, dengan adanya payung juga menambah kekhusyukan jamaah. Saat duduk di bawah payung jadi lebih khusyuk karena tidak kepanasan, lebih adem,” ungkap Harlan.
Sementara itu, Sekretaris Yayasan Masjid Assahara, Tajudin Roni menuturkan bahwa hadirnya payung besar di pelataran masjid tersebut memang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah. Hal tersebut juga selaras dengan tujuan pengurus masjid dan Pemerintah Kota Jakarta Barat yang ingin menghadirkan desain masjid yang berbeda dari masjid pemerintah kota lainnya.