Mengenal Masjid Tjia Kaang Hoo di Sudut Pasar Rebo, Berarsitektur Tionghoa dan Betawi

Niko Prayoga , Jurnalis
Kamis 26 Februari 2026 08:12 WIB
Mengenal Masjid Tjia Kaang Hoo di Sudut Pasar Rebo, Berarsitektur Tionghoa dan Betawi. (Foto: Niko Prayoga)
Share :

JAKARTA - Di tengah bangunan megah dan deretan rumah ibadah yang terus berkembang di Jakarta, sebuah bangunan di sudut Pasar Rebo, Jakarta Timur, diam-diam menunjukkan eksistensinya sebagai rumah ibadah umat Muslim (masjid) yang cukup unik. Masjid Tjia Kaang Hoo merupakan rumah ibadah dengan nuansa arsitektur khas Tionghoa.

Sekilas, masjid yang terletak di Jalan Haji Soleh, Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini terlihat seperti kelenteng dengan warna merah dan emas yang mendominasi serta lampion yang menggelantung di sepanjang jalan menuju masjid tersebut. Namun azan yang berkumandang menegaskan bahwa bangunan itu merupakan sebuah masjid yang berdiri kokoh.

Frans (37), pengurus DKM sekaligus Ketua Yayasan Haji Abdul Soleh, mengatakan keunikan masjid ini ada pada arsitekturnya. Jika biasanya masjid identik dengan arsitektur gaya Timur Tengah, Masjid Tjia Kaang Hoo justru menonjolkan diri dengan gaya arsitektur yang mirip kelenteng. Bahkan tata letak ruangan, gerbang, dan hiasan yang digunakan juga hampir menyerupai sebuah kelenteng.

(Masjid Tjia Kaang Hoo. Foto: Niko Prayoga) 

Alasannya, sebagai representasi bahwa Tjia Kaang Hoo atau yang dikenal dengan Haji Abdul Soleh sebagai pendiri masjid dulunya beragama Konghucu. Ia kemudian menjadi mualaf dan menyebarkan agama Islam dengan membentuk majelis taklim di rumahnya yang kini menjadi Masjid Tjia Kaang Hoo.

“Jadi yang pertama mengenai arsitekturnya, sebetulnya ini berbentuk agak seperti kelenteng. Nah, kenapa seperti kelenteng? Karena awal mula di sinilah mengingat sejarah almarhum Haji Abdul Soleh atau Tjia Kaang Hoo ini, pada saat belum memeluk agama Islam atau belum mualaf, beliau keyakinannya bukan Islam sehingga kita abadikan dalam sebuah bangunan,” kata Frans saat diwawancarai di Masjid Tjia Kaang Hoo, Rabu (25/2/2026).

Namun jika diperhatikan lebih detail, arsitektur masjid ini ternyata merupakan perpaduan antara arsitektur Islam, Betawi, dan Tionghoa. Hal itu dapat dilihat dari hiasan gigi balang khas Betawi yang terpasang di bagian luar masjid dengan sangat rapi dan presisi.

“Nah, ini seperti gigi (gigi balang) di depan, disebutnya di Betawi. Ini khas Betawi, yang paling menonjol dalam budaya Betawi itu seperti ini,” ucap dia.

 

Sementara di bagian dalam terdapat kaligrafi Asmaul Husna atau 99 sifat Allah yang memenuhi tembok area imam salat. Kaligrafi tersebut sangat mengilap dengan balutan warna emas yang menghiasi setiap ukirannya. Lampu-lampu yang digunakan juga turut menambah kilauan emas yang terpancar dari kaligrafi tersebut.

“Di samping sebagai hiasan, kami juga menyisipkan pesan di sana. Artinya apa? Inilah sifat Tuhan kami, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jadi yang kami sisipkan kepada orang yang beribadah di sini, yang pertama jangan pernah ragu untuk selalu berdoa, selalu beribadah, dan jangan pernah ragu dengan sifat-sifat Tuhan kami Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” ungkap Frans.

Tidak hanya itu, arsitektur yang paling menonjol adalah kubah masjid yang berbentuk seperti pagoda dengan jumlah lima kubah. Terdiri atas empat kubah di setiap sudut dan satu kubah paling besar di tengah. Lima kubah berbentuk pagoda itu memiliki makna filosofis lima rukun Islam yang harus dijalankan oleh umat Muslim.

(Masjid Tjia Kaang Hoo. Foto: Niko Prayoga) 

“Untuk di atas itu ada seperti kubah, ini ada lima kubah. Jadi filosofisnya kembali ke rukun Islam. Dalam keyakinan kami, di dalam agama Islam ini ada lima rukun Islam. Nah, ini untuk menandakan sebagai rukun Islam,” papar dia.

Frans menceritakan bahwa masjid ini didirikan pada Oktober 2022. Nama Tjia Kaang Hoo sendiri diambil dari nama pendiri masjid yang juga dikenal sebagai Haji Abdul Soleh.

“Jadi Masjid Tjia Kaang Hoo ini awal mulanya adalah rumah almarhum Tjia Kaang Hoo atau Haji Abdul Soleh. Makanya diabadikan sebagai nama masjid ini, yakni Masjid Tjia Kaang Hoo,” beber Frans.

Awalnya, bangunan ini hanyalah sebuah rumah tinggal milik Tjia Kaang Hoo yang sering digunakan sebagai tempat perkumpulan kajian atau majelis taklim. Setelah Tjia Kaang Hoo meninggal, anaknya bernama Haji Budianto menggagas pendirian masjid di atas tanah bekas rumah tersebut.

“Seiring perjalanan waktu, rumah tempat tinggal ini dijadikan majelis taklim. Diadakan kegiatan-kegiatan pengajian dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keagamaan. Nah, setelah itu digagas oleh orang tua kami, Bapak Haji Budianto, untuk mendirikan masjid ini. Akhirnya dirundingkan dengan anak-anak Tjia Kaang Hoo dan diwakafkanlah tanah ini untuk pendirian masjid,” pungkas dia.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya