JAKARTA - Memasuki bulan Ramadan, ratusan bahkan jutaan umat Muslim di Indonesia melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Mereka tidak makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Di balik proses menahan lapar dan haus tersebut, tersimpan mekanisme biologis yang menarik. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa puasa memiliki potensi dalam membantu tubuh mendeteksi dan menghancurkan sel kanker.
Mengutip penelitian dari Sloan Kettering Institute MSK, Minggu (22/2/2026), puasa dapat melatih ulang cara kerja tubuh. Saat berpuasa, tubuh tidak hanya membakar lemak dan menyesuaikan metabolisme, tetapi juga memperkuat sel pembunuh alami yang disebut Natural Killer (NK).
Sesuai namanya, sel ini merupakan bagian dari sel darah putih yang bertugas mencari dan menghancurkan sel-sel abnormal atau rusak, seperti virus maupun cikal bakal kanker. Saat berpuasa, sel pembunuh alami ini dilaporkan lebih aktif dan tersebar ke seluruh tubuh dalam kondisi yang lebih optimal.
Selain itu, melansir National Center for Biotechnology Information (NCBI), puasa dapat mengaktifkan proses “pembersihan mandiri” sel yang disebut autofagi. Dalam kondisi ini, tubuh memanfaatkan waktu tanpa asupan makanan untuk memperbaiki dan membersihkan komponen sel yang rusak.
Sel-sel yang sudah tidak berfungsi optimal, protein usang, hingga partikel berbahaya akan didaur ulang menjadi sumber energi baru. Proses ini membantu menjaga kesehatan sel, menurunkan risiko penyakit, serta mendukung regenerasi tubuh.
Sementara itu, Syaikh Shakhbout Medical City melaporkan bahwa puasa juga berpotensi mendukung terapi kanker. Dalam penelitian terhadap pasien kanker kandungan yang menjalani kemoterapi sambil berpuasa, ditemukan bahwa kadar gula darah dan hormon pertumbuhan yang dapat memicu sel kanker menurun, sementara kadar keton sebagai sumber energi alternatif meningkat.
Kondisi tersebut dikaitkan dengan penurunan efek toksik kemoterapi dan stabilitas kondisi pasien yang lebih baik. Dengan demikian, terapi dapat dilakukan sesuai jadwal tanpa penundaan akibat kondisi tubuh yang menurun. Puasa juga disebut berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien secara biologis.
Di sisi lain, puasa meningkatkan kadar asam lemak bebas sebagai sumber energi pengganti glukosa. Peningkatan ini diduga membantu memperkuat aktivitas sel pembunuh alami dalam mendeteksi dan menghancurkan sel-sel abnormal, termasuk sel kanker dan virus.
(Rani Hardjanti)