JAKARTA - Pemanis buatan seperti aspartam, sucralose, stevia, dan sakarin sering digunakan sebagai pengganti gula. Pilihan ini kerap dianggap lebih sehat daripada gula karena rendah kalori atau bahkan tanpa kalori.
Pemanis buatan banyak ditemukan dalam minuman diet, permen bebas gula, yogurt rendah lemak, serta berbagai produk berlabel “rendah gula”. Karena kandungan kalorinya yang minimal, pemanis ini kerap dipilih oleh mereka yang ingin menjaga berat badan atau mengontrol kadar gula darah.
Meski telah disetujui oleh berbagai lembaga kesehatan dan dinyatakan aman dalam batas konsumsi tertentu, sejumlah penelitian mulai mengaitkan pemanis buatan dengan beberapa dampak kesehatan. Di antaranya perubahan metabolisme, gangguan pada mikrobioma usus, hingga potensi penurunan fungsi kognitif, terutama pada orang dewasa yang lebih tua.
Beberapa studi melaporkan bahwa konsumsi pemanis buatan secara rutin dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif, seperti gangguan memori, kesulitan dalam pemecahan masalah, serta penurunan performa fungsi otak seiring bertambahnya usia. Namun, hubungan ini belum dapat dipastikan sebagai sebab-akibat langsung.
Artinya, belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa pemanis buatan secara langsung menyebabkan penurunan fungsi otak. Hubungan antara keduanya masih terus diteliti lebih lanjut.
Para ahli memaparkan beberapa dugaan mekanisme yang mungkin menjelaskan keterkaitan tersebut, antara lain:
1. Perubahan pada mikrobioma usus, yang diketahui memengaruhi komunikasi antara otak dan sistem pencernaan.
2. Respons metabolik tubuh terhadap rasa manis tanpa kalori, yang berpotensi memengaruhi penanda inflamasi atau proses neurologis tertentu.
Karena itu, para ahli kesehatan mengingatkan agar konsumsi pemanis buatan tetap dibatasi. Hingga kini belum ada bukti yang menyatakan bahwa pemanis buatan aman dikonsumsi dalam jumlah tidak terbatas.
Pemanis buatan dapat menjadi pilihan sesekali, tetapi sebaiknya tidak dijadikan pengganti utama gula dalam pola makan sehari-hari. Bagi mereka yang mengonsumsinya secara rutin, disarankan untuk mempertimbangkan pola makan secara keseluruhan serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna mendapatkan saran yang sesuai.
(Rani Hardjanti)