Menariknya, meskipun jumlah penderita gagal ginjal antara laki-laki dan perempuan relatif seimbang, pasien laki-laki lebih banyak yang akhirnya menjalani transplantasi. Hal itu dipengaruhi oleh faktor sosial, yakni peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga.
Sehingga, biasanya anggota keluarga mendorong dengan memberikan donor ginjal agar kualitas hidupnya kembali membaik dan bisa bekerja lagi.
“Laki-laki sering jadi pencari nafkah utama, jadi keluarganya mendorong agar kualitas hidupnya kembali baik dan bisa bekerja lagi,” ujarnya.
Prof. Endang juga menjelaskan bahwa kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi kunci penting. Dengan diagnosis yang lebih awal, pasien nantinya memiliki lebih banyak pilihan terapi, termasuk peluang menjalani transplantasi pada waktu yang tepat, bukan saat kondisi kerusakan ginjal sudah terlalu berat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)