JAKARTA - Kasus obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dan menjadi perhatian serius di sektor kesehatan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada penampilan fisik, tetapi juga berhubungan erat dengan berbagai penyakit kronis yang dapat menurunkan kualitas hidup. Di tengah tantangan tersebut, pendekatan pengobatan yang lebih mudah diterima masyarakat dinilai semakin penting.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas tercatat 23,4%, meningkat dibandingkan 21,8% pada 2018. Sementara itu, prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 36,8%. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga penduduk Indonesia memiliki penumpukan lemak di area perut yang berisiko memicu penyakit serius.
Obesitas diketahui menjadi salah satu faktor risiko utama diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, serta gangguan metabolik lainnya. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat memicu komplikasi kesehatan jangka panjang dan meningkatkan kebutuhan biaya pengobatan.
Dalam praktik layanan kesehatan, kepatuhan pasien menjalani terapi jangka panjang masih menjadi tantangan. Salah satu kendala yang kerap muncul adalah metode pengobatan. Terapi suntikan, meskipun efektif, masih menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian pasien.
Karena itu, obat berbentuk pil dinilai lebih praktis dan mudah dijalani. Terapi oral memungkinkan pasien menjalani pengobatan tanpa rasa takut terhadap jarum suntik, sehingga berpotensi meningkatkan kepatuhan dan konsistensi penggunaan obat.
Tren preferensi terhadap terapi oral juga terlihat secara global. Di Amerika Serikat, awal 2026 menjadi momen penting dengan diluncurkannya terapi penurun berat badan dalam bentuk pil sebagai alternatif dari terapi suntikan yang sebelumnya lebih dominan. Salah satu produk yang diluncurkan adalah Wegovy versi oral, yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi global Novo Nordisk.
Data IQVIA pada 23 Januari 2026 menunjukkan bahwa Wegovy versi pil mencatat 18.410 resep dalam pekan penuh pertama yang berakhir 16 Januari 2026. Bahkan, dalam empat hari awal sejak peluncuran pada 5 Januari, obat ini telah memperoleh 3.071 resep. Capaian tersebut menunjukkan respons awal yang cukup tinggi dari pasien, demikian dilansir dari Reuters.
Wegovy tablet di Amerika Serikat menyasar pasien dengan skema pembiayaan mandiri atau self-pay, mengingat sebagian besar asuransi belum menanggung obat penurun berat badan. Dari sisi harga, dosis awal 1,5 mg dan 4 mg dipasarkan dengan harga USD 149 per bulan, sedangkan dosis pemeliharaan 9 mg dan 25 mg dibanderol sekitar USD 299 per bulan. Perusahaan juga mengumumkan rencana penyesuaian harga dosis 4 mg menjadi USD 199 per bulan setelah pertengahan April.
Untuk menjangkau konsumen, distribusi obat ini dilakukan melalui jaringan apotek besar seperti CVS dan Costco, serta platform layanan kesehatan digital seperti Ro, LifeMD, WeightWatchers, dan GoodRx. Strategi ini memudahkan pasien mengakses terapi sesuai kebutuhan masing-masing.
Respons pasar terhadap peluncuran terapi oral tersebut juga tercermin di pasar modal. Pada 16 Januari 2026, saham Novo Nordisk di Denmark tercatat naik sekitar 6,5%, mencapai level tertinggi sejak September. Kenaikan ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek bisnis obat obesitas di tengah meningkatnya permintaan global.
Persaingan di segmen terapi obesitas diperkirakan akan semakin ketat. Sejumlah perusahaan farmasi besar lainnya juga tengah mengembangkan obat obesitas dalam bentuk pil yang saat ini masih menunggu persetujuan regulator. Salah satu keputusan regulator untuk produk sejenis dijadwalkan pada April 2026.
Bagi Indonesia, perkembangan ini dinilai relevan dengan kondisi di dalam negeri. Dengan angka obesitas yang terus meningkat, kebutuhan akan pendekatan pengobatan yang efektif dan mudah dijalankan menjadi semakin penting. Terapi oral dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa mengonsumsi obat berbentuk pil.
Selain itu, obat oral juga memiliki keunggulan dari sisi distribusi. Berbeda dengan obat suntik yang memerlukan penyimpanan rantai dingin, obat berbentuk pil relatif lebih mudah disalurkan ke berbagai daerah. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Indonesia yang memiliki wilayah luas dan tantangan geografis.
Meski demikian, para pakar kesehatan mengingatkan bahwa inovasi obat bukanlah solusi tunggal. Pengendalian obesitas tetap memerlukan perubahan gaya hidup, mulai dari pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, hingga edukasi kesehatan yang berkelanjutan.
Aspek keterjangkauan juga menjadi perhatian. Jika terapi inovatif seperti ini suatu saat tersedia di Indonesia, diperlukan kajian menyeluruh terkait regulasi, harga, serta kemungkinan integrasinya ke dalam sistem layanan kesehatan nasional. Dengan struktur pembiayaan yang berbeda dari Amerika Serikat, kebijakan akses harus dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Perkembangan terapi obesitas oral menunjukkan arah baru inovasi kesehatan yang semakin berfokus pada kenyamanan pasien. Bagi Indonesia, tren ini dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi peningkatan penyakit tidak menular.
Dengan tantangan obesitas yang semakin kompleks, upaya menjaga kesehatan masyarakat membutuhkan pendekatan menyeluruh. Inovasi pengobatan, kebijakan kesehatan yang tepat, serta kesadaran individu menjadi kunci dalam menghadapi persoalan obesitas di masa depan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)